Urban Protest Against Fuel Price Hike

Planting seeds reversing the city walls

Combing Into Jogja

Spend the twilight alone

Carnaval Music Patrol XII Jember

Sabtu malam, sampai senin dini hari (28-29/07), Carnaval Music Patrol (CPM) merupakan sebentuk usaha untuk melestarikan kesenian tradisi yang mulai meredup eksistensinya karena tergeser oleh arus modernisasi. Kegiatan CMP XII ini, diselenggarakan kesekian kalinya, oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember (UKMK UJ).

Abrasi di Bibir Papuma

Jember (13/01) dini hari beberapa teman mencari nasi menyisir warung, mereka berjalan pelan-pelan lewat belakang warung.

Berdagang di Pasar Tradisional

Para pedagang di Pasar Tanjung Jember yang memulai aktivitasnya dini hari.

Kamis, 11 April 2013

Esai Saya di Zine Halimun Edisi #6




halimun *6 merupakan kompilasi diary perjalanan dalam bentuk teks maupun grafis mengenai liburan lebaran 2011. halimun *6 mengajak 24 kawan untuk menjadi kontributor :


novielisa

felkiza vinanda

aldiman sinaga

dillaqolbi

agus susanto

galih pratama

m. abdul manan

andreiw budiman

kathleen azali

antonio carlos

debby utomo

reshan janotama

purna cipta nugraha

widiatmoko putranto

annisa rizkiana

deasy easterina

nita darsono

rangga nasrullah

diekey lalijiwo
rizkan al maududy

mahar gireta rosalia

onny ranantalice

nuniek septy wulandari

danang sulistyo


foto oleh kat unduh melalui link dibawah ini :
http://www.archive.org/details/halimun6_849

Esai Saya di Sarbi Edisi #4 Agustus 2011


Photobucket

Kamu bisa mendownloadnya disini Klik


--KONTRIBUTOR--


KULIT MUKA
1. Muhammad ali Zakki, Sidoarjo



Seni Visual
1. Reza Maulana, Surabaya
2. Nurul Putri,Surabaya
3. Deni Dessastra,Singkawang-Kalimantan Barat
4. Vasilis Protopapas, Greece
5. DENNY BUDI SUSETYO, Malang
6. DANIELE CAPES, France
8. SUDHEER URALATH, Kerala, India
9. Rian Saputra, Jakarta Selatan


Penulis
1. Diekey LaliJiwo,Jember
2. Nanang Suryadi, Malang
3. Salamet Wahedi, Jogjakarta
4. Bunda Djibril Djuhra, Medan
5. Budhi Setyawan, Jakarta Selatan
6. Indra Tjahyadi, Ponorogo
7. I Putu Gede Pradipta, Bali
8. Arfan Fathoni, Ponorogo
9. Heru Emka, Semarang.


Versi Cetak Hitam Putih:

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

*Kritik, saran dan semua yang hendak dikirim perihal SARBI dapat dialamatkan ke sarbikita@gmail.com


TERIMA KASIH

diambil dari http://sarbikita.blogspot.com/2012/01/sarbi-edisi-ke-iv-agustus-2011.html

Selasa, 26 Maret 2013

Menjadi Puisi : Telaah Empat Penyair Jember

Oleh: Armand Dhani Bustomi

Dalam sebuah esainya Sutardji menulis "puisi adalah alibi kata-kata". Lahir dari upaya untuk melepaskan arti yang tunggal dan melahirkan telaah yang lebih dari biasanya. Bahwa puisi tak harus sejalan dengan kamus. Puisi tak mesti setuju dengan norma. Dan yang jelas puisi tak harus seragam seperti baju sekolahan. Sutardji melahirkan apa yang disebut sebagai usaha membebaskan kata dari makna.

Tapi itu barangkali hanya seloroh yang dibikin bikin. Atau bisa jadi Sutadji benar. Kata sudah dibebani makna begitu hebat. Sehingga ia kehilangan fungsinya sebagai penyampai pesan. Tapi bukan tentang itu saya ingin menulis artikel ini. Ada baiknya kita belajar untuk menikmati puisi sebagai sebuah momen. Sebagai sebuah ruang yang bisa jadi liar, syahdu, intim, keras, pekat dan sebagainya dan sebagainya. Puisi adalah proses menjadi. Bahwa puisi menggunakan kata-kata sebagai medium itu perkara lain.

Dalam artikel yang ditulis di Kompas pada 3 Maret lalu, Gerson Poyk, menuliskan tentang poetic sense. Baginya pengalaman puitis berhubungan erat dengan citarasa puitis (poetic sense) dalam diri penyair. Sehingga bagi Gerson Poyk, pengalaman pribadi seorang penyair akan mempengaruhi Citarasa puitis dalam sajak-sajaknya. Hal ini barangkali sejalan dengan pemikiran Harold Bloom yang melahirkan leksikon Anxiety of Influence. Bahwa puisi mau tak mau lahir dari rahim “lingkungan dimana si penyair besar dan berkembang sebagai seorang manusia.

Puisi, meminjam istilah Poyk, ibarat jiwa dalam diri manusia karena memiliki hubungan langsung dengan intuisi puitis. Ia lantas mengatakan bahwa “poetic sense dalam sebuah karya tak dapat dipisahkan dari bentuk verbal di mana kata-kata bukan hanya merupakan tanda dari konsep atau ide” katanya, tetapi sebagai sebuah ”obyek yang merdu”. Objek merdu berarti puisi tak hanya harus indah sebagai sebuah bacaan namun juga indah apabila dibacakan.

Tak berhenti di situ Poyk juga menawarkan beberapa konsep imajinasi yang membantu kelahiran puisi yaitu; “imajinasi yang muncul ke akal permukaan, kehidupan dan kebutuhan sehari-hari”, lalu “imajinasi yang dikuasai oleh naluri atau libido dan kenangan pahit,” dan yang terakhir “imajinasi yang dapat melahirkan konsep-konsep dan ide-ide abstrak, digetarkan oleh poetic intuition.” Dan saya sendiri menambahkan satu konsep imajinasi lain yaitu imajinasi diksi.

Konsep dari Poyk ini akan saya gunakan untuk mendedah beberapa sajak dari empat penyair muda Jember. Yang pertama dari  Siti Nur Ashiya dalam sajak Tertipu. Dalam sajak ini menggunakan imajinasi dikuasi oleh naluri atau libido dak kenangan pahit. Meski tak harus sama persis namun sajak Tertipu ini juga bercerita perihal hidup yang keras (barangkali) dari mereka yang hidup di jalanan.

Saat matahari mulai padam
Saatnya ayam dan anak-anaknya pulang,
Namun sayang
Lonteku tak kunjung datang

                Pembukaan sajak ini menampilkan deskripsi dari sebuah momen. Namun sayangnya Siti terlalu boros menggunakan deskripsi. Ia menggunakan “Saat matahari mulai padam” untuk menggambarkan sore hari, disaat yang sama juga menggunakan “Saatnya ayam dan anak-anaknya pulang,” barangkali akan lebih efektif jika satu saja yang digunakan. Narasi deskripsi juga seperti dipaksa terpenggal ketika peralihan waktu langsung bercerita tentang “lonteku tak kunjung datang,” menurut hemat saya penggunaan “namun sayang” terasa tanggung dan mengganggu.

Di sisi lain. Siti dengan cerdas menggunakan idiom-idiom tertentu untuk menggambarkan sebuah kondisi perasaan/pikiran seseorang.  Seperti dalam “Kegundahan mulai terbakar, Jarum jam terus berputar” atau “Terus berjalan berlaku liar, Di tepi jalan kududuk bagai terlantar”. Sayang ada penggunaan kata yang saya rasa tak perlu dan mengganggu unsur estetika puitik dari sajaknya. Kata semacam “bagai”, “mulai”. Seharusnya frasa “kegundahan mulai terbakar” akan menjadi lebih dramatis ketika ia ditulis “Kegundahan terbakar”.

Puisi semestinya memancing daya kreasi dan daya khayal bagi pembacanya. Puisi selayaknya juga membuat para pendengarnya bisa menutup mata dan membayangkan sebuah dimensi yang lepas dari pembacaan puisi. Di sini Siti gagal, saya kira pada akhir-akhir sajaknya ia seperti kehilangan stamina dan membuat sajaknya terengah-engah. Frasa “Di ujung jalan buntu, pertama kita bertemu / Merasa cocok, ikat janji untuk bersatu” dan “Sungguh sial aku tertipu, Yang kutunggu telah berlalu,” malah berubah seperti pantun. Di sini ada inkonsistensi yang terasa sangat mengganggu.

Barangkali Siti ingin menciptakan puisi naratif yang bercerita tentang seseorang yang berjanji bertemu muka setelah berkenalan. Tapi ternyata bukannya bertemu si calon kekasih, ia malah dicopet/ditipu ketika menunggu. Ada unsur komedi dalam puisi ini, yang ia tuliskan dalam akhir sajak dalam frasa “Dompetku yang tebal tak ada di saku”. Sayang sedari awal Siti tak bisa membuat relasi yang kuat antara satu bait dan bait sajak lainnya untuk menciptakan momen puitik. Namun secara umum pembaca bisa dengan gamblang membaca makna dari puisi tertipu ini.
         
       Sementara dari puisi Habib Firdaus saya menemukan kekuatan puitik yang sederhana namun sangat menarik. Dalam sajak yang berjudul Mata Habib mampu menggunakan kata-kata dengan sangat efektif sehingga melahirkan imaji yang utuh. Poyk barangkali akan memasukan puisi ini dalam kategori imajinasi yang muncul ke akal permukaan dari kehidupan dan kebutuhan sehari-hari.

jika mata dan mata
saling bertemu
maka akan terbalik duniaku
               
                Puisi ini barangkali adalah puisi favorit saya dalam antalogi ini. Karena kesederhanaan dalam puisi ini melahirkan imajinasi yang begitu menarik. Ada yang genit, ada yang malu-malu, ada yang penasaran, ada yang gundah dan ada yang kasmaran. Puisi ini bercerita tentang cinta tanpa perlu menuliskan kata cinta dan idiom-idiom sebangsanya. Puisi ini seperti memampatkan perasaan dalam sebuah pertemuan antara dua sejoli yang kasmaran. Tapi di sisi lain ia bisa juga bercerita tentang perasaan yang meledak-ledak.
Sementara di sajak Plang Jalan Habib bermain-main dengan narasi. Sayang habib kurang menggali lagi unsur kejutan. Pada pembukaan sajak ini pembaca diajak membayangkan sebuah tanda/marka jalan. Si “aku” dalam sajak ini merenungi tanda itu sebagai sebuah dialog dan perintah “hati-hati”. Yang pada bait kedua ia jawab sambil menggerutu dengan kata “Iya”.

sekejap memandang
plang jalan, ku baca
"hati-hati
sering
terjadi kecelakaan"

sekejap diriku hilang
seketika akalku berhenti
terheran
ah, hatiku berbisik usil!
"iya

Ada yang jenaka disini. Si aku melihat tanda/marka jalan seolah-olah ada orang yang berbicara dan ketika ia sadar sebagai sebuah tanda ia hanya benda mati. Sehingga ia menghidupkan benda mati dan membuatnya sebagai estetika sendiri. Proses kreatif semacam ini sering dimanfaatkan oleh Afrizal Malna dalam puisi-puisinya. Namun sayangnya Habib tak maksimal dan terkesan setengah-setengah. Namun terlepas apapun itu Habib sejauh ini yang paling berhasil dalam menggali ragam jenis teknik puisi secara menyeluruh.

Sebelum membahas penyair dan sajak berikutnya. Ada baiknya saya berbagi sedikit tentang istilah “Avant-Garde and Kitsch” yang pernah dilontarkan oleh Clement Greenberg dalam sebuah artikel pada 1939. Bagi Greenberg yang seorang kritikus seni rupa terma avant-garde atau pembaharu dan kitsch atau murahan hanyalah perkara sudut pandang estetis. Dalam esainya yang masyur itu ia mem-bandingkan puisi dari penyair T.S Elliot dan lirik lagu dari penyanyi Tin Pan Alley. Siapa yang berhak menilai bahwa yang satu lebih superior dari yang lain?

Dalam artikelnya itu Greenberg berpendapat bahwa sebuah masyarakat cenderung untuk terus menerus gagal menemukan keterikatan dan pemahaman yang sama antara hubungannya dengan penulis/pengarang/penyair. Hal ini disebabkan sebagai pribadi dan pencipta seorang penyair tak bisa membagi secara utuh pengalaman personalnya dalam sebuah sajak kepada para pembacanya. Akan selalu ada “jurang yang tak terlihat” dan “putusnya makna” sekeras apapun seorang penyair berusaha menjelaskan.

Namun puisi berbeda dengan lukisan atau patung yang menjadi objek seni rupa dan keahlian Greenberg. Beberapa puisi tak memiliki bentuk yang estetik, beberapa hanya berupa tanda-tanda baca saja, dan yang lain bisa sangat abstrak sehingga tafsir susah sekali dilakukan. Puisi-puisi Sutarji, Saut Sitompul, dan puisi mbeling ala Remy Sylado misalnya. Beberapa puisi dilahirkan hanya untuk dimengeri oleh segelintir orang dan yang lainnya bisa dipahami secara telanjang.

Greenberg mewaspadai apa yang ia sebut sebagai imitasi dari imitasi. Jean baudrillard, seorang pemikir post strukturalis Perancis, kelak menyebut ini sebagai simulacrum. Greenberg memaknai bahwa tak mungkin ada yang orisinal seusai penciptaan sebuah karya. Apabila sebuah karya itu bagus, baik puisi maupun seni rupa, akan menghasilkan glorifikasi, tiruan dan saduran. Sehingga untuk melihat sebuah karya sebagai karya yang lahir sendiri dan tak dipengaruhi apapun adalah hal yang mustahil.

Di sini para penyair muda Jember dalam antalogi puisi ini tak berusaha mendobrak obsesi ke-penyairan perihal kemurnian. Alih-alih mencipta yang baru penyair-penyair ini malah asyik dalam dunianya sendiri dan mencoba mengeksplorasi tema-tema yang ada disekitarnya. Permasalahan sosial di sekitar rumah tinggal penyair kerap menjadi inspirasi puisi. Hal ini karena keseharian yang terasa salah itu menggelitik nurani dan membuat para penyair seolah Ingin mencipta sajak. Seperti apa yang dilakukan oleh Abdul Gani dalam sajaknya yang berjudul Kabar Tak Sampai.

Pembuka sajak ini begitu melekat dikepala saya “Pak Lukman / Menghitung detik-detik jam tangannya yang berguguran,”. Abdul Gani pintar memainkan diksi sehingga melahirkan rangkaian kata yang unik. Tak hanya itu stamina, irama dan nafas sajak ini terjaga dan tak sesak. Sehingga ketika dibaca dan direnungi sajak ini melahirkan kisah yang sembilu perihal keluarga yang ditinggalkan sanak famili merantau sebagai buruh migran. Di ujung sajak ada twist yang menyenangkan

Dalam bait lainnya Abdul Gani menggambarkan sebuah keadaan dengan cerdik.

          Dadanya dipukul-pukul ketakutan
          Matanya semakin kecil dan lincah seperti ikan-ikan teri
          Jantungnya kecut
         Dia sudah lupa bau angin yang sedari tadi menelan tubuhnya
               
                Pada bait itu kekuatan diksi bermain secara sentral. Penggunaan ikan teri dan kecut melahirkan nuansa yang segar namun disaat bersamaan pesan yang diinginkan sampai. Lantas di baris sajak lain ia menuliskan “Dua tahun lalu sudah disembunyikan jarak di Saudi / Yang tertinggal hanya kerinduan menjerit-jerit”. Penggunaan metafora diksi Abdul Gani begitu renyah namun tak terlihat murahan. Mengawinkan jarak dan rentang waktu bagi saya adalah sebuah pencapaian puitik yang menarik.
                Berbeda dengan tiga rekan yang lainnya Dieqy Hasbi Widhana lebih banyak menggali lirik sebagai sebuah peristiwa puitik. Pada sajak Patahan panahmu masih tertinggal Dieqy menjalin narasi sebagai kekuatan utama puisinya, selain diksi dan metafora tentunya. Narasi yang saya maksud adalah penceritaan lebih pendek dari puisi epik yang panjang dan seringkali bertema kepahlawanan. Narasi liris lebih pendek dengan tema-tema yang lebih cair. Coba saja tengok bait berikut ini :

         kutemukan dirimu lusuh dalam tumpukan rindu
         kisahmu serumit gumpalan benang kenang kusut
         teranyam tiap helai bait diantara detak gerigi akal
         sebesar apapun gelisah yang berkaca-kaca,
         tak akan sanggup menerjemahkan remukan kisah sesal kita
               
           Puisi ini terdengar/terbaca profetik. Ada yang kudus namun dekat. Tetapi jika dibaca lebih seksama balutan kata yang dipilih Dieqy ada yang lepas dan hilang. Bait ini adalah puisi yang berusaha menemukan “yang lain”. Entah itu cinta, kekasih, sahabat atau perasaan yang urung ditemukan. Ignas Kleden dalam Esai yang berjudul Puisi dan Dekonstruksi menawarkan tiga cara membaca sajak. Cara pertama adalah cara semiotik yang melihat semua bunyi bahasa dalam sajak itu sebagai tanda dan hubungan antartanda. Cara yang kedua adalah cara semantik yaitu melihat hubungan kode leksikal dengan makna.

Sementara cara yang ketiga adalah cara hermeneutik yaitu melihat hubungan antara kode bahasa dengan makna, dan hubungan makna dengan konteks kebudayaan yang luas. Pada puisi Dieqy bahasa dan  tanda bukan masalah. Karena hampir seluruh diksi yang dipilih adalah kata-kata sehari-hari yang ditemui dalam sebuah percakapan. Yang membedakan barangkali adalah penempatan dan sinergi dari kata tersebut yang melahirkan unsur dramatis. Seperti pada dua larik sajak berikut:

...
bulan, aku mencintaimu tanpa kemewahan
…
aku tak gila tentang biji kelopak kata,

Kalimat itu terdengar sangat gombal, tetapi bukan sembarang gombal. Tentu seorang pedagang obat yang piawai akan menjalin kata-kata semanis dan semurah mungkin untuk menjual dagangannya agar laku. Sebagai penyair tentu Dieqy bisa lebih banyak memanfaatkan jalinan kata dan menempatkannya dengan kata lain sehingga melahirkan imaji yang lebih liar. Dalam kasus ini Dieqy sukses menjadi gombal tanpa terlihat gombal. Frasa Aku tak gila tentang biji kelopak mata tentu adalah rayuan. Tapi kata ini tak jatuh pada kategori picisan malah menjadi romantis.
Sebagai penutup saya inggin menggunakan dua baris dari sajak Dieqy yang membuat saya berpikir panjang. Tentang perpisahan yang syahdu, tentang sebuah kehilangan yang pedih, bukan tentang rasa sakit saya menyukai sajak ini. Tapi lebih pada upaya melahirkan adegan yang hiperbolis dari interaksi dua arah yang saling menjauh.

mengapa dengan sekali pecutan kau berlari beradu punggung denganku
bukankah, seharusnya aku yang merayakan lupa


Membaca puisi empat penyair muda Jember ini membangkitkan semangat saya untuk terus menulis. Mereka yang dalam kesibukannya masing-masing mampu membuat karya yang menarik. Lebih dari itu keintiman sajak-sajak yang ada lahir dari pergaulan intens dengan karya sastra lain. Hal ini membuat saya ingat perkataan Andrea Hirata yang mengatakan Sastra tak laku di Indonesia. Saya kira ia tak kenal empat pemuda ini.

Lomba mading 3D Tapal Kuda

hanya menjejaringkan ulang dari Blog Panitia http://himakiuj.blogspot.com/

 

 

All Chemist in Action (Acetone) merupakan program baru yang berupa serangkaian kegiatan gabungan dari program kerja bidang-bidang di bawah naungan HIMAKI. Bidang-bidang tersebut yakni bidang PP, Mikat dan Pemas. Penggabungan program kerja antar bidang tersebut dilakukan dengan alasan planning diadakannya program kerja tersebut berdekatan. Acetone 2013 yang bertemakan “Science Fair Project” berhasil terlaksana di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Jember dengan didatangi dan dibuka langsung oleh Rektor Universitas Jember, Drs. Moh. Hasan, M.Sc., P.hD. Hal ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi HIMAKI.

Kegiatan acetone dibuka dengan lomba mading 3D dan lomba Chemistry Mini Project (CMP) pada tanggal 8 Februari 2013. Lomba mading 3D ditujukan untuk siswa SMP/Sederajat sedangkan lomba CMP untuk siswa SMA/Sederajat yang keduanya pada tingkat Se-Eks Karesidenan Besuki, Lumajang dan Probolinggo. Antusias peserta lomba cukup baik jika dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti acara ini. Peserta lomba mading 3D berjumlah 14 tim dari 5 sekolah yang berbeda dari Kota Banyuwangi, Jember dan Situbondo sedangkan peserta CMP sebanyak 13 tim dari Kota Probolinggo, Jember dan Banyuwangi.

Lomba mading 3D sendiri mengangkat tema “Kimia Pangan di Indonesia”. Lomba ini mengharapkan peserta membuat majalah dinding (mading) dalam bentuk 3 dimensi. Mading berisi informasi, isu, dan hal-hal yang berhubungan dengan kimia dalam pangan, baik itu dari segi positif atau negatif bahan kimia dalam pangan tersebut. Selain itu, teknologi berbasis penerapan ilmu kimia dalam produksi pangan juga bisa diikutsertakan.


Mading Karya Siswa SMPN 3 Genteng

Lomba mading ini memakai sistem 50% pengerjaan mading dilakukan peserta di sekolah masing-masing dan 50% selanjutnya dilakukan di tempat lomba dengan alokasi waktu 5 jam. Dengan penuh perjuangan mereka menyelesaikan mading dengan tanpa bantuan guru pembimbing atau lainnya. Selain itu, mereka juga harus menghadapi juri ketika penilaian. Juri lomba mading 3D antara lain Tanti Haryati, S.Si., M.Si (Dosen Kimia FMIPA Unej), Dieqy Hasbi Widhana (PPMI Kota Jember) dan Yeni Patmawati (Bidang Jurnalistik HIMAKI 2012/2013).

Berbeda lagi dengan lomba Chemistry Mini Project. CMP atau Festival Kimia untuk siswa SMA merupakan kegiatan akademik yang berintikan kompetisi proyek mini berbasis ilmu kimia. Kompetisi bersifat terbuka untuk seluruh siswa SMA baik perorangan maupun kelompok. Proyek Mini Kimia sendiri adalah kompetisi perubahan ide menjadi bentuk kongkrit yang berupa:

1.    Metode pembelajaran

2.    Teknologi

3.    Eksperimen

4.    Software

5.    Karya kreaktif inovatif lainnya

 

yang memiliki landasan teori/konsep kimia bagi siswa SMA/sederajat. Tujuan utama diadakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan motorik siswa-siswi SMA atau sederajat mengenai aplikasi ilmu kimia dalam dunia nyata.

Lomba ini dapat dikatakan berkala karena 1 minggu sebelum hari lomba peserta harus mengirimkan ide mereka dalam bentuk essay kepada panitia. Jika ide dalam essay ini sesuai aturan, menarik dan kreatif maka peserta akan lanjut dengan pendemoan ide di tempat lomba. Pendemoan ini dikunjungi oleh juri. Juri berasal dari dosen jurusan kimia FMIPA Unej antara lain Dr. Bambang Piluharto, S.Si., M.Si., Ika Oktavianawati S.Si., M.Sc. dan Yeni Maulidah M., S.Si., M.Si. Penilaian selanjutnya setiap tim menjalani interview dengan para juri.


Kartu Ion salah satu nominasi CMP

Pengumuman kedua lomba dilakukan bersamaan. Adapun pemenang lomba mading 3D yakni SMPN 1 Jember (juara I), SMP 2 Jember (juara II) dan SMP 3 Genteng (juara III). Sedangkan pemenang lomba CMP antara lain SMAN 1 Genteng (juara I), SMK Farmasi (juara II) dan SMAN 1 Gending Probolinggo (juara III). Pengambilan hadiah pemenang dilakukan pada acara Seminar Nasional tanggal 17 Februari 2013.

Juara Mading 3D


Juara CMP (Chemistry Mini Project)

Acetone ditutup dengan acara seminar nasional pada tanggal 17 februari 2013 di gedung PKM. Seminar kali ini mengangkat tema “Fortifikasi Pangan” dan dengan pemateri Prof. Dr. Ir. Tedjasari, Ph.D. seminar berjalan dengan lancar dan diikuti oleh sekitar 128 peserta baik dari dalam maupun luar Kota Jember. Demikian kami ucapkan selamat atas suksesnya acara acetone 2013. Semoga acetone ini dapat menjadi acara tahunan HIMAKI di kepengurusan periode selanjutnya dengan dilaksanakan lebih baik dan bercermin dari acetone kali ini. (Anggia)            





Ibu Prof. Dr. Ir. Tedjasari, Ph.D saat menjelaskan tentang Fortifikasi Makanan

Selasa, 26 Februari 2013

Noise

Barangkali valentine bukan satu-satunya jenis perayaan yang tak saya ketahui asal muasalnya. Beberapa jenis perayaan yang lain juga melalui proses penga-ada-an kurang lebih serupa. Itu menurut saya bedasarkan segala kemungkinan yang telah saya himpun sebelumnya.

Pernah saya membayangkan, mengapa valentine disebut sebagai valentine. Mengapa valentine disebutkan mempunyai sejarah semacam itu, kemudian disimpulkan atau diseret secara paksa untuk menjadi titik tekan sebuah momentum. Mengapa yang ini bisa disebut sebagai valentine sedangkan yang itu bukan termasuk valentine. Apakah ada pembekuan atas sebuah ide yang di sekitarnya telah ditanami batas-batas. Di luar batas itu yang disebut valentine akan menjadi bukan valentine.
Mungkin bukan hal yang aneh jika segala jenis pemikiran yang lalu lalang dipikiran kita sangat sulit diterjemahkan. Hal tersebut tentu saja dilakukan karena antar satu orang dengan yang lain berinteraksi sekaligus saling menyampaikan informasi. Maka dari itu pemikiran atau ide yang akan didistribusikan harus dimanifestasikan dahulu. Maka hadirlah dia yang sebelumnya ada sebagai bukan yang tampak menjadi dia yang ada secara penampakan.
Akan tetapi ide dengan manifestasi atas ide punya celah yang rapuh. Bisa jadi keretakan itu membuat keduanya berjalan sendiri-sendiri. Dalam artian ide akan mencari maksudnya sendiri sedangkan manifestasi atas ide akan mendapatkan maksudnya sendiri pula. Bisa juga kita menyebut celah atau keretakan manifestasi itu sebagai bagian dari noise dalam berkomunikasi.
Dalam beberapa kasus, kita akan menemukan renik noise. Misalnya saja ketika anda pulang ke rumah. Lalu anda terlibat dalam kebiasaan keluarga yang menurut anda menjijikkan. Ibu anda yang tergila-gila pada tayangan telenovela sedang menguasai remot televisi. Anda dan seluruh keluarga terjebak di dalamnya.
Kemudian muncul inisiatif anda untuk mengajak seluruh elemen keluarga tertawa. Anda bermaksud mengerjai Ibu dengan cara mematikan sakelar listrik rumah. Maksud anda di awal memang ingin membuat Ibu marah-marah lalu keluarga anda yang lain ikut menertawakan kemarahan Ibu. Namun ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Ibu anda memang marah-marah, terlebih ternyata keluarga anda yang lain juga ikut memarahi anda karena telah mengerjai ibu. Maksud anda memang Ibu akan ditertawakan karena punya kebiasaan buruk. Kemudian Ibu pun menyadari bahwa ternyata selama ini dia telah melalukan kebiasaan buruk. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Atau barangkali dengan kasus sederhana yang lain. Misalnya  di ruang tunggu stasiun kereta api  anda merangkul seorang teman. Memang sang teman mempunyai jenis kelamin yang sama dengan anda. Kala itu maksud anda ialah merangkul atas dasar kerekatan hubungan pertemanan. Sebelum berpisah, anda lebih memilih memeluknya karena merasa dia akan kembali seteleh melewati waktu yang panjang. Namun orang-orang disekitar anda memaknai kejadian itu sebagai pasangan homo atau lesbi yang sedang dalam jenjang menuju perpisahan.
Bisa jadi dalam beberapa kasus tersebut noise telah berhasil menunjukkan eksistensinya. Ternyata ide atau pikiran bisa berjalan terpisah dengan manifestasi. Masing-masing dari mereka tidak berjalan dengan bergandengan tangan. Dari sana bisa kita simpulkan secara sementara jika setiap ide yang disampaikan memang retak.
***


Bukan hal yang aneh memang jika di masa remaja kita sudah pernah terlibat pada budaya yang tak sepenuhnya kita pahami mengapa ada. Di masa SMP dan SMA, pada setiap tahun ajaran terselip satu momentum budaya remaja yang aneh. Setau saya kala itu teman-teman memaknai valentine sebagai hari kasih sayang. Lantas kemudian yang tak saya pahami sampai sekarang, mengapa kasih sayang harus dimanifestasikan lewat sebatang coklat. Di sisi lain ternyata bukan hanya coklat yang dijadikan simbol maksud kita (memberikan berarti menyayangi orang yang diberi) yaitu beberapa barang yang berhubungan dengan area romantis remaja. Misalnya saja bunga, boneka, atau makanan yang disukai pasangannya.
Awalnya saya menganggap itu jenis perayaan yang biasa saja. Dia akan terus ada walaupun tanpa kehadiran saya. Anehnya lagi, kala itu saya menganggap memang hal tersebut sejenis ritual yang harus dilakukan jika mempunyai seseorang yang disayangi. Saya memang menunaikan ritual itu juga dengan senang hati dan merasa bangga.
Belakangan ini saya teringat kembali momen itu. Kemudian merasa gelisah dengan budaya khas remaja yang pernah saya jalani sendiri. Apakah mungkin saya punya makna yang sama tentang hal itu dengan pembuat budaya itu. Dalam artian makna yang saya berikan pada perayaan valentine apakah sesuai dengan maksud si pembuat budaya itu. Entahlah saya tidak mengetahui secara penuh mengenai hal itu.
Namun yang lebih saya risaukan mengenai cara merayakannya. Bagaimana mungkin maksud saya atas sebuah coklat yang saya berikan sesuai dengan makna yang diproduksi oleh orang yang saya beri. Padahal kala itu saya dan teman-teman cowok yang lain berkonsultasi mengenai barang apa yang akan diberikan terlebih dahulu.  Entahlah mengapa masing-masing dari kami kala itu menganggap semakin mahal harga coklat maka akan semakin besar rasa sayang kami pada seseorang yang akan diberi.  Pada akhinrnya kami bareng-bareng pergi ke luar kota hanya untuk mencari coklat yang paling mahal. Saya masih ingat kalau waktu itu pulang dari luar kota dengan membawa satu tas kresek berisi coklat putih. Saya lupa apa nama mereknya, akan tetapi saya yakin itu coklat mahal dengan merek berkelas. Pasalnya sebelum memastikan untuk membeli, saya sudah terlebih dahulu bertanya pada situs search engine Google.
Hasilnya, ada sebagian teman memasang raut muka yang bahagia sedangkan yang lainnya tidak. Mereka yang terlihat tidak bahagia itu terjadi karena seseorang yang mereka berikan coklat ternyata tidak suka coklat. Beberapa teman yang beraut muka bahagia itu karena coklat yang mereka berikan dibalas dengan coklat mahal. Sedangkan saya tidak. Coklat putih mahal yang saya berikan ditukar dengan sebatang coklat Silver Queen yang bisa dipastikan dibeli dari Indomaret depan sekolah. Sampai lebih dari tiga hari setelah ritual saling tukar coklat itu saya memasang ekspresi muka cemberut. Hari-hari saya kala itu dihantui dengan pemikiran bahwa dia sudah tidak sayang lagi. Pikiran saya penuh dengan bagaimana cara memusutkan hubungan dengannya. Namun tak sampai putus, di hari keempat saya berubah pikiran. Saya menganggap senyuman yang selalu dia berikan lebih mahal dan lebih manis dari coklat manapun. Terlebih saya kagum dengan cara dia mendapatkan coklat. Dia harus menabung jauh-jauh hari. Sedangkan saya membeli coklat mahal dengan terlebih dahulu meminta uang pada Ibu.
Barangkali kita bisa menyatakan bahwa dengan mudah dan instan sekali makna berpindah tangan. Di sisi lain setiap perpindahan tak selalu berwujud sama dengan yang sebelumnya. Atau mungkin yang lebih merisaukan lagi jika setiap saat makna atas benda yang sama bisa terus bereproduksi dengan kilat dan berganti-ganti rupa. Barangkali itulah noise.[]


Senin, 14 Januari 2013

Kerja Kaki Merawat Jaringan

Berpindahtangannya tanggung jawab sebagai Sekjen Kota Jember dari Rizky Akbari S kepada Dian Teguh Wahyu Hidayat, terjadi pergantian pula terhadap letak Sekretariat PPMI Kota Jember. Awalnya menjadi satu dengan perpustakaan kecil di Jawa VII. Kemudian ditempatkan terpisah dengan perpustakaan yaitu di Jalan Tidar. Hingga pada akhirnya ada permasalahan baru terkait harus di mana PPMI Kota Jember akan menyimpan dokumen keorganisasiannya.
Ada anggapan kita akan memperpanjang kontrak sekret di Tidar. Namun sampai kapan kita akan bertahan karena dana yang seringkali minim. Terlebih beberapa pengurus kota mempunyai kesibukan di tempat yang saling berlainan dan memang harus menjadi tempat tinggal mereka. Kalaupun dipaksa untuk terus menempati Tidar, otomatis kami tidak akan secara intens berada di sana.
Banyak sekali pertimbangan yang muncul dan silih berganti. Posistif dan negatif dikupas berulangkali. Hingga akhirnya muncul keputusan bahwa PPMI Kota Jember akan menyimpan dokumennya  di Sekretariat LPM Manifest FTP Unej. Menjadi satu dengan Manifest. Pada proses pemindahan sekretariat, kami tidak sampai berboyong-boyong untuk memindahkan dokumen-dokumen. Ternyata sebagian besar dokumen ada dalam bentuk digital, sedangkan bagian lain yang berbentuk fisik masih muat dimasukkan dalam satu tas kecil.
Memang keputusan tersebut berangkat dari beberapa hal. Yang pertama karena permasalahan dana untuk menyewa rumah kontrakan mending ditukar dengan biaya cetak Buletin Merah Putih (itupun kalau ada). Sedangkan yang kedua kami ingin lebih mendekatkan diri ke LPM secara riil. Nah yang ketiga, ada yang manis-manis di Manifest. Sedangkan hal lainnya seperti kemudahan akses, jaminan terawatnya dokumen, sekretariat LPM dari Biro Umum kota dan Sekjen kota. Di sisi lain kami juga berkaca kepada PPMI Nasional kepengurusan Andi Mahifal yang bersekretariat di LPM Dimensi. Selain itu memang kemudahan di kepengurusan tahun lalu karena PPMI Kota Jember hanya mempunyai perangkat struktur tunggal, hanya ada Sekjen kota yang pada akhirnya memudahkan pengalamatan. Sedangkan dikepengurusan periode ini lebih riuh. Mungkin tepatnya sedikit agak riuh.
Bukan hal yang aneh jika beberapa teman LPM sering kesasar ketika berkunjung di Sekret PPMI Kota Jember yang dulu (Tidar). Hal itu akan terjadi secara wajar. Akan tetapi jika teman-teman LPM tidak mengetahui sekretariat LPM lainnya maka itu adalah hal yang sangat aneh. Akan terbukti  jika kelemahan kita ada pada kerja kaki merawat jaringan.
Di awal kepengurusan kota terbentuk, ternyata banyak sekali LPM yang tidak mengetahui di mana letak Sekretariat LPM Manifest. Kami hampir kesulitan mendefinisikan sebenarnya kutukan macam apa yang sedang mendera pengurus PPMI Kota Jember pada periode ini.
Hal tersebut kita asumsikan menjadi permasalahan bersama. Harus ada solusi atau antisipasi agar tak terulang pada beberapa periode ke depan. Barangkali yang harus kita lakukan adalah tidak bosan-bosannya keliling LPM. Sembari mengajak satu atau dua anggota baru untuk sekedar membagi undangan, majalah, buletin, majalah tempel, atau beramah-tamah. Paling tidak kader yang akan menjadi tulang punggung bagi generasi selanjutnya sudah saling kenal di tataran kota. Tentu saja hal tersebut akan memperkuat pola kerja profesi bagi masing-masing internal LPM.
Selain itu seperti yang telah dilakukan di kepengurusan PPMI Kota Jember sebelumnya. Mengadakan diskusi secara bergiliran. Akan tetapi pada kepengurusan sebelumnya diskusi sangat jarang sekali ada. Terlebih sebagian besar diskusi diadakan di warung kopi. Oleh karena itu diperlukan forum-forum diskusi yang lebih banyak dan berganti-ganti tempat dari satu LPM ke LPM yang lain.
Kalau pada nantinya beberapa pengurus PPMI Kota Jember singgah di LPM teman-teman. Jangan sok-sokan kaget atau histeris. Tapi saya rasa hal tersebut sudah sering dilakukan. Rame-rame sembari mengajak teman-teman LPM lain untuk berkeliling dari satu LPM ke LPM yang lain. Bahan obrolan pun tak sekedar mengenai seluk beluk internal LPM. Tapi lebih dari itu. Lebih gak jelas maksudnya.
Bisa jadi mengikat jaringan baru terasa lebih mudah daripada upaya secara kontinyu untuk merawat jaringan itu sendiri. Berjeraring akan membuat kita memahami kelemahan dan tak lantas mengutuk diri sendiri. Akan tetapi akan berlanjut pada pendiskusian dengan teman seprofesi. Mari berjeraring, saling berbagi dan saling menguatkan.
Jabat erat,

Jantung Habitus


Dalam sebuah puisinya, Wiji Thukul melemparkan pendapat ke publik, dia seperti sedang berteriak lantang, pada dasarnya manfaat dari ilmu pengetahuan terletak pada distribusi pada kelompok sosial terdekat. Tak ada yang lebih dari sia-sia, dari menggunungnya wacana dalam kedirian, tanpa disertai proses dialektika dalam poros ilmu pengetahuan an sih.

Betapa gilanya Socrates, seorang filsuf yang bagi beberapa orang proses kediriannya hanya mampu dilacak lewat Plato, setiap kali masa senggang hadir, dia menyisir beberapa sirip jalan. Kemudian berhenti di depan seorang pedagang untuk bertanya, Apa arti keberanian menurut kamu? Lalu berjalan lagi dan berhenti lagi, untuk sekedar bertanya hal yang sama kepada seorang pandai besi. Demikian seterusnya.

Jika Socrates adalah ilmu pengetahuan, maka setiap tapak kaki yang menindih tanah adalah perjalanan dari sebuah ilmu pengetahuan. Selalu ada jeda untuk sekedar memahami apa yang ada di dalam, kemudian melemparkan pada tembok di luar dirinya. Dia lemparkan dengan keras. Keras sekali, sampai pecah. Seoalah segenap kekuatan yang diikatnya untuk melempar, mewakili ketidakpercayaannya pada sebuah kebenaran absolut yang tunggal. Lalu mengajak mereka yang diluar, merangkai bersama-sama.

Entahlah  apa yang diinginkan oleh mereka yang secara kontinyu menerima-memahami-mengolah-menolak ilmu pengetahuan. Bisa saja kebenaran bagai mereka, hanyalah titik klimaks yang berlaku dengan sangat sementara. Seperti gelisah Aristoteles pada warna apel. Bukankah warna merah hanya berlaku sementara. Bagaimana bisa menyatakan apel bewarna merah, jika waktu adalah tuhan kecil yang senantiasa bekerja untuk merubah. Merubah yang sebelumnya kita maknai sebagai sebagai kebenaran. Merubah warna apel yang merah menjadi merah kecoklatan dalam rentang waktu tertentu.

Di sisi lain, terjadi pula proses menaklukan waktu. Sebuah perjalanan menggeser posisi tuhan. Menjadikan diri sebagai peletak kebenaran tunggal. Namun di setiap bilik waktu yang manapun, tetap saja hanya mampu bernafas sepanjang fiksi mini. Berlalu cepat. Secepat satu kali menyeruput kopi. Namun yang tersisa dan berlaku lama hanyalah endapannya. Dia yang tak selalu hitam tapi selalu sulit untuk diputihkan.

Mungkin Hitler secara tidak sengaja pernah mengkudeta waktu atau meniadakan dialektika. Ketika tentara Rusia mendesak Jerman. Terjadilah proyek pengosongan arsip negara. Seluruh arsip yang tadinya tersimpan rapi di laci dan berbagai tempat aman lainnya, dibuang lewat jendela untuk dikumpulkan di tengah lapangan. Kemudian dibakar dengan sangat tergesa. Entah dalam keadaan sadar atau tidak, berubahlah makna sebuah ritual upacara, yang tadinya untuk mengenang segala kerjadian masa lalu demi melestarikan rasa nasionalisme. Menjadi sebuah perayaan untuk meraba-raba masa lalu, apa sebenarnya yang terjadi di masa itu.

Bukankah sama halnya dengan apa yang dilakukan jenderal besar angkatan darat kita, Soeharto. Pada masa ketuhannannya, hampir seluruh media yang mengkritik dirinya harus dibredel. Sambil lalu, membentuk sebuah kelompok kecil sejarawan, kebetulan diketuai oleh Nugroho Notosusanto. Tidak hanya itu, untuk mengagungkan atau mengekalkan fiksi mini tentang kepahlawananya, dia juga membuat sebuah film pendek. Tentu saja segala yang dia lalukan hanyalah seputar bagaimana cara mempengaruhi publik untuk mengabadikan kebenaran kediriannya, lewat jalur yang tak sepenuhnya patas. Harapan terbesar bagi dirinya adalah, kelahiran dan berkembangbiaknya kubu positivis dengan meniadakan mereka yang kritis.

Bolehlah jika saya sedikit berujar bilamana perpustakaan adalah pos kasir. Ada jeda di sana bagi sebuah perjalanan ilmu pengetahuan. Ada embrio hening yang terus bernapas dalam lalu lalang di sana. Sebuah institusi atau kelompok dengan modal sosial tertentu, selalu menyediakan tempat ini sebagai jantung bagi dirinya. []

*) Tulisan ini pernah dipublikasikan di Bulletin Partikelir LPMS Ideas