Urban Protest Against Fuel Price Hike

Planting seeds reversing the city walls

Combing Into Jogja

Spend the twilight alone

Carnaval Music Patrol XII Jember

Sabtu malam, sampai senin dini hari (28-29/07), Carnaval Music Patrol (CPM) merupakan sebentuk usaha untuk melestarikan kesenian tradisi yang mulai meredup eksistensinya karena tergeser oleh arus modernisasi. Kegiatan CMP XII ini, diselenggarakan kesekian kalinya, oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember (UKMK UJ).

Abrasi di Bibir Papuma

Jember (13/01) dini hari beberapa teman mencari nasi menyisir warung, mereka berjalan pelan-pelan lewat belakang warung.

Berdagang di Pasar Tradisional

Para pedagang di Pasar Tanjung Jember yang memulai aktivitasnya dini hari.

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

fiksi mini yang agak panjang dikit

ini

judul

Nya







aku lainnya bertanya padaku, "mengapa ketika hujan deras siang tadi, matahari tak segera menjadi arang karenanya?".. sambil menyulut ketidakmungkinan aku menjawab sekenanya, "seandainya ramalan tentang kemarahan besar tuhan itu terjadi, sebesar apapun ombak tangis penghuni segala semesta, tak akan sanggup memadamkan api amarahnya.."



"oh, berarti matahari itu egois dan otoriter banget ya", ujar aku yang lainya sambil tak sadarkan diri jika ia telah menyandera kebenaran universal..



"yah, jika dirimu adalah mata yang jarang sekali tertangkap basah ketika berbohong. atau kau yang tibatiba menjelma serupa lintah, sungguh rumit merumuskan alat pengukur kerataan tanah bagi hewan sepertimu. dalam waktu yang tak lama kau pasti melakukan ritual bunuh diri", aku menjemputnya dalam mimpi sambil mengantarkan kata tersebut.



kemudian aku yang lainya pecah layaknya tembok berlin yang tibatiba tertampar ludah canon. seketika masing-masing pecahan reruntuhan itu membentuk aku yang lainya. mereka membiak. merimba.



aku menghela nafas panjang, mengisi udara sebanyak-banyaknya pada rongga jiwaku. hingga tak ada sudut sekecil apapun yang mampu digenangi keresahan. tentu saja sembari menertibkan brigade mental, sebelum bermesum ria dengan jutaan pertanyaan yang akan mereka ajukan..

***




bersambung, , , , , , ,


(NB:dengan syarat ada yang mau nyambung...)

Jumat, 18 Maret 2011

Dinaskahkan jadi kumcer di E-LoveStory #19







Buku E-LoveStory #19

* Rama dan Cinta, Arien
* Valentine berkulit gelap itu RINDU, Dieqy Hasbi Widhana
* Bertemu My True Love Lewat Facebook, Tri Lego Indah F N
* Perfect World, Apendi
* Pemetik Bulu Mata @fiksimini Twitter, Muh. Husen Arifin
* Jurnal Tentang Dia, Nian Kartika Sari
* Percakapan di atas Vespa, Sinatrya Mayapada
* Goodbye and Hello, Emilia Natarina
* Kado Cinta Buat Eyang, Nelfi Syafrina
* Cinta Alff Dii Flay, Fitrah Abdul Quddus
* Oh, My Valentine Day, Rugyinsun
* Love Means, Jaumil Aurora
* Biru, Mentari Meida Rahmalah
* Neli - Cicak, Natalie Putri Febrianto
* Piala Sebuah Keberanian, Ambar Tisnawati


Cara Pemesanan buku-buku E-Love Story ini dapat melalui email, caranya:

kirim email ke writers4indonesia@gmail.com
Harga buku @Rp 45.000,- (Belum termasuk ongkos kirim)


dinaskahkan olen nulisbuku.com


Jumat, 28 Januari 2011

Terserah Arsitek Cerita

Di samping, terdengar suara benda berat terjatuh yang diiringi suara setengah lenguhan. Kemudian di susul dengan teriakkan panjang. “haaa… dimana aku..?”, suara lelaki setengah baya itu menggema. Dia masih berdiri kebingungan, dalam sepetak ruangan yang hanya berjejal lampu temaram lima watt. Sepi tak ada keriuhan dari suara apapun. Kosong tak ada benda apapun selain dirinya. Jarak pandangnya hanya dua jangka kaki pendeknya.



Gerakannya kacau, tergesa mencari sesuatu yang masuk akal untuk membayar kegelisahannya. Sorot matanya menelanjangi keremangan tanpa batas itu. Dia berjalan perlahan kira-kira sejauh tiga meter, tapi kegelisahannya semakin menumpuk. Ketakutan tiba-tiba menggertaknya dengan keras tepat di pangkal gendang pikirannya. Akhirnya dia berlari. Sesaat kemudian berhenti.



“aneh aku merasa berlari sejauh ribuan jangka, tapi rasa capek belum menyapaku. Bahkan rasanya tak kunjung beralih dari waktu yang sementara tadi. Dimana aku? Suaraku tadi menggema, seperti berada dalam kerongkongan gunung. Cahaya remang akan tetapi tidak ada matahari, lampu, bintang, bulan, atau benda apapun yang dapat mengeluarkan cahaya”.



Dia merasa tersesat di dalam ruang tanpa waktu. Lelaki berambut gundul itu berjalan perlahan sambil terus berpikir. Sesaat kemudian dia berhenti lalu berjongkok. Sekitarnya masih hening. Tiba-tiba dia meloncat, meringkuk seperti orang kedinginan. Sepertinya dia menyadari sesuatu.



“gila.. aku merasa berjalan di awang-awang. Entah apa yang kupijak ini. Tak ada permukaan, apa aku melayang? Yang lebih tak masuk akal, sedari tadi tak ada suara selain suara dari mulutku sendiri. Aku harus mengakhiri hariku sekarang juga“



Dia memukul berkali-kali tubuhnya sendiri. Mencoba bunuh diri. Baginya percuma menunggu kematian jika tak ada waktu yang akan menjadikannya tua kemudian mati.



“bertambah aneh tepat ini. Sekuat apapun tanganku menghantam tubuhku, tak ada rasa sakit. Tubuh ini seperti mati rasa. Bagaimana ini, aku tak bisa mati cepat”.



Ia bergegas duduk. Kali ini nada bicaranya melunak. Ia diam agak lama. Mau tau apa yang dia lakukan? Kali ini ia memaksa raut mukanya untuk memelas. Seperti kucing kecil yang sedang memohon makanan dari tuannya.



“heh penulis.. kau telah menciptakan sebuah tokoh lelaki berkaki pendek. Memainkan emosiku. Membuat aku berulang kali merasakan tamparan kebingunan. Kejam sekali kau..” dia berupaya protes kepadaku.



Yah, aku meemang sedang menuliskan cerpen dengan dia sebagai tokohnya.



“sudah diam.. cepat selesaikan cerita ini agar aku segera musnah..”, protesnya lagi.



“iya aku sedang memprotesmu sedari tadi. Berhentilah mendeskripsikan apapun tiap kali aku berbicara. Langsung saja berdialog denganku..”, kali ini dia mengkritikku.

“hahahaha… hey, hanya penulislah yang berhak menuliskan kisahmu. Kau tak boleh protes. Entah nanti kau mati dengan merasakan kepedihan terlebih dahulu. Atau mati menyenangkan selagi penismu dikulum ribuan perawan. Penulis sepertiku punya kebebasan tanpa batas”, suara penulis menggema dan menggetarkan ruang absurd tempat tokoh itu berada. Hingga membuatnya terpental jauh ke belakang. ia seperti air dalam kaleng yang kemudian dikocok.



“kau bohong.. di sini aku tak merasakan apapun. Sedari tadi kau juga bohong mengenai kaki pendekku. Aku tak punya tubuh disini. Sekarang aku sedikit memahami, jika yang hanya hidup dariku ialah sebuah pikiran. Kau bahan lupa jika di awal cerita kau seperti menjatuhkanku dari atas dengan suara yang terdengar berat, sedangkan di tengah cerita kau mengatakan tak ada suara selain suara yang keluar dari mulutku. Kau mencoba membohongi pembaca ya? Tidak hanya membuat cerita seenaknya. Lebih dari itu kau berupaya memanipuasi keadaan. Pasti kau ingin dianggap hebat oleh pembaca kan?”

Tiba-tiba meja makan hadir di depannya. Lelaki itu terperangah sejenak, lalu gurat wajahnya menunjukkan kegembiraan yang berlebihan.



“wahai pembaca, penulis berupaya membohongimu lagi. Dia tak sekalipun menaggapi ucapanku. Wahai pembaca, tolonglah selamatkan aku. Bila dia menyuruhmu mengedit atau membaca tulisan ini, lekas bakarlah kertas berisi cerpen tentangku ini. Agar aku musnah dan aku tak pernah ada. Kumohon lakukan itu. Aku tak berdaya di sini”.[]

Selasa, 19 Oktober 2010

Kematianku

Awan gelap terburu-buru memayungi bumi. Tetesan hujan semakin keras terdengar berpacu dengan rintihan binatang malam. Sesekali kilatnya menjilat bumi. Aku duduk di atas bangku yang ketiga kakinya keropos. Rumah kosong ini terlihat gosong sepertinya api tak kuasa menghabiskanya. kupandang gumpalan darah kering yang berceceran di tembok.  aku tetap menatap darah itu. Itu darahku. Masih terekam jelas dalam memoriku tentang kronologi kematianku disini.

Tragedi menyayat hati itu terjadi tepat memasuki detik-detik pergantian tahun. Berawal dari si sony anak semata wayangku yang sering pulang malam. Sambil membawa aroma alkohol yang menyesakkan hawa sepetak rumah warisan nenek sony yang kami huni berdua. Hari-hari yang menjadi saksi tingkah laku sony seakan menjadi lembaran yang terus menumpuk dan perlahan membentuk keresahan bagiku. Memang, selama ini aku tak memperdulikan hal itu. Aku hanya tak ingin mengikat kebebasanya dengan aturanku. Alhmarhum suamiku sering mengatakan, “biarkan anak kita tumbuh dengan banyak pengalaman di luar, pengalaman yang akan mengajarinya untuk dewasa”.

Malam itu gerimis mengiringi pergantian tahun. Rasa gelisah mengepul di dadaku karena sony yang pergi tanpa pamit dan hampir dini hari dia belum pulang juga. Tetanggaku sering menemuinya sedang berkumpul dengan teman sebayanya. Duduk melingkar dengan beberapa botol ditengah mereka. Sampai detik pergantian tahun, aku masih menunggu di ruang tamu. Melamun sambil memandang dengan tatapan kosong pada jam dinding. Malam itu sepi, hanya nyanyian detak jam yang mengunyah waktuku.

Tiba-tiba sony masuk dengan diiringi suara khas pintu rumah. Sepintas mataku menatap jarum jam yang menunjukan jam tiga pagi. Ternyata aku tertidur dan melewatkan beberapa jam waktu penantian. Dengan baju basah dia menuju kamarnya sambil meninggalkan jejak ceceran air di lantai. Sontak aku memanggilnya, “sony.. kesini sebentar, ibu mau bertanya beberapa hal tentangmu yang akhir-akhir ini selalu pergi tanpa pamit”.. dengan nada yang semakin melengking seiring sony yang berjalan semakin menjauh. Entah mengapa sepertinya emosi membakar ubun-ubunku, ketika beberapa saat sony tak menjawab kata-kataku. Akupun mencoba menghampirinya dengan langkah gontai akibat rasa capek yang mengendap ditubuhku.

“Haaaahh…”, dari kejauhan suara sony menusuk telingaku. Kupercepat jalanku menuju kamarnya dengan dahi mengombak. Dalam kamar sony yang berukuran 4x4 dengan hanya bersekat triplek. Lampu kamarnya pecah dan kacanya berserakan. Di pojok sudut ruang kotak itu soni jongkok sambil melindungi kepalanya dengan lipatan tanganya. kasurnya berantakan, cermin telah menjadi mozaik dan berserakan di lantai, bekas kopi semalam membasahi tembok triplek itu. Pemandangan itu memacu aliran jantungku. “sony..apa yang kamu lakukan..?”, sikap diamnya membuatku penasaran dengan segera aku berupaya mendekatinya. Baru baru selangkah aku berjalan kaca yang berserakan itu menyobek telapak kakiku.

 “aduh, coba liat kaki ibu keluar darah karena ulahmu.. kamu kenapa sony? Pulang malam.. pergi tanpa pamit.. pulang dengan baju basah.. badanmu bau alkohol..”  tanpa menghiraukan sakit yang membuat darah di kakiku muncrat, akupun menghujamnya dengan beberapa pertanyaan.

“diam.. ibu bikin rame aja.. sana, ibu tidur aja daripada ngomel-ngomel gak jelas”

“nak.. aku ini ibumu, aku yang telah berjuang mati-matian mengeluarkanmu dari rahimku. Dari mana kamu belajar kata-kata kasar itu..”
“huuhh..”

“jawab sony, sebelum ibu melaknatmu menjadi anak yang durhaka..?”

“diiiaaaam..”

“dasar anak durhaka.. ibu menyesal telah melahirkanmu.. kamu selalu bikin malu orang tua.. pulang malam, mabuk, tawuran.. apa kamu lupa siapa yang melahirkanmu.. sadarlah nak..”

“haaaaahhh..”

Tiba-tiba dia mengeram keras dan tanganya mengambil potongan kaca. Perlahan dia berdiri seakan siap untuk berlari. Kamar yang gelap itu menutupi wajahnya. Lalu pecahan kaca itu dia ayunkan ke perutku. Darah segar mengucur deras dari sela belahan akibat pecahan kaca itu.

“bruuggh”, tubuhku membentur lantai yang dipenuhi serakan kaca.

Mulutku kaku, saat itu tak ada yang bisa aku ucapkan. Aku masih mengingat matanya merah dan berkaca-kaca. Dia terus menghujam kearah perutku. Seketika pengelihatanku menjadi gelap.

Setelah itu, dari kejauhan aku merasa melihat sosok mayat dengan isi perut berhamburan. Darahnya menggenangi lantai. Seorang anak lelaki kecil masih menusuk wanita itu berkali-kali. Aku mendekati sosok wanita yang tergeletak di lantai. Kudapati dengan jelas wanita itu adalah aku dengan anak laki-laki bertubuh sony di sebelahnya.

“Mengapa kita harus hidup dengan skenario takdir yang sudah disepakati. Seperti apa yang kualami”, sambil merintih dan menangis perlahan aku mengeluarkan kata itu dari samping jendela.



--dipublikasikan dalam buletin PaRTIKELIR edisi Oktober--
mohon kritiknya, akan kutukar kritik kalian dengan otokritik... ^_^

di sela ritual upacara penyambutan maba..

"berdoa mulai..", brigade sok piooner itu berupaya melayangkan skenario kelompoknya untuk mendendangkan beberapa serpihan do'a (yang seharusnya dimaknai sebagai harapan, bukan request) dari agama yang dia anggap benar.

"huuaaakkkhhh chhuuuiiiihhh.. heterogenitas ada bukan untuk saling melengkapi, tapi saling menghegemoni dan berebut kebenaran", dari kejauhan mayat berbau anyir itu meludah sembari memalingkan otaknya ke arah kiri.

_fiksi mini_

Selasa, 31 Agustus 2010

.....

Ah, aku bingung.. entah pada siapa harus kutuangkan kegelisahan ini. Pada pohon, hewan, atau manusia yang tak sedikitpun menyadari jika tuhannya hanya menciptakan otak bukan pikiran araupun ide. Entahlah mereka menyadari atau tidak jika waktu kita termakan liburan dua minggu pra dan pasca hari raya.

Tapi, coba lihat apa yang telah kita lakukan.. “kosong”.. semua orang berpikir jika mereka adalah gelas yang siap diisi. Tanpa pernah menyadari seberapa besar ukuran gelas yang mereka miliki.
Bukan menjadi hal yang aneh jika beberapa orang beratap ekstra hanyalah menjadi patung-patung yang ditata melingkar dalam ruangan. Hingga mirip dengan suasana forum patung.
Sungguh, aku masih kesulitan jika harus merumuskan siapa diantara kita yang terorganisir dalam kawan ataupun lawan. Tapi, aku takkan memalingkan muka dari seberat apapun masalah yang berjumpa denganku. Mungkin semua itu karena aku tak siap hari ini, melainkan aku telah siap memperkosa semua masalah sudah dari jauh hari sebelum hari ini.
Apa jadinya jika forum terus diteriaki suara profokasi yang menganggap eksistensi personal menjadi agung. Dan bukan bukan hanya sekedar ramalan jika kami berpikir semua yang terkumpul akan hancur berserakan dan menjauh. Kemudian jauh sekali dari kesan mustahil bila apa yang menjauh bisa melingkar mencicipi hidangan satu emosional yang sama.


14810