Urban Protest Against Fuel Price Hike

Planting seeds reversing the city walls

Combing Into Jogja

Spend the twilight alone

Carnaval Music Patrol XII Jember

Sabtu malam, sampai senin dini hari (28-29/07), Carnaval Music Patrol (CPM) merupakan sebentuk usaha untuk melestarikan kesenian tradisi yang mulai meredup eksistensinya karena tergeser oleh arus modernisasi. Kegiatan CMP XII ini, diselenggarakan kesekian kalinya, oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember (UKMK UJ).

Abrasi di Bibir Papuma

Jember (13/01) dini hari beberapa teman mencari nasi menyisir warung, mereka berjalan pelan-pelan lewat belakang warung.

Berdagang di Pasar Tradisional

Para pedagang di Pasar Tanjung Jember yang memulai aktivitasnya dini hari.

Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Januari 2014

Nuklir, Perjalanan, dan Gang Kecil di Jakarta


Selepas kelas yang dimentori Janet Steele, saya diajak seorang teman untuk singgah di rumah Fawas. “Rumahnya tak jauh dari sini,” teman saya menjelaskan, “Kita bisa menginap di sana, dari rumah Fawas ke Kantor Pantau cuma satu kali naik angkutan.”  Tak lama setelah itu Fawas datang, kami bersalaman lalu menuju rumah Fawas dengan berboncengan tiga. “Deket kok, aman gak ada polisi,” Fawas mencoba meyakinkan kami. Sepanjang perjalanan saya melihat dua supir bajai meludah di dalam kendaraanya sendiri.
Di depan rumah Fawas terdapat meja kecil berbentuk lingkaran. Ada empat kursi yang di tata melingkar mengikuti setengah lengkungan sisi meja. Di tempat itu kami bertiga menghabiskan sisa sore. Akhir-akhir ini Fawas sedang sibuk merampungkan masa pendidikannya, sebagai mahasiswa pasca sarjana, jurusan teknik nuklir.
“Sudah baca buku Hirosima?” Saya merespon disiplin ilmu akademik yang Fawas tempuh.
“Belum.”
“Dalam buku itu diceritain kalo nuklir itu gak meledak, cuma ngeluarin kilat, emang gitu ya?”
“Oh kalo di dalam zona ledakan mah emang gak kedengeran ledakannya. Tapi kalau dari luar baru kedengeran.” Sembari menyeruput kopi, saya membayangkan sejenak, entah sudah berapa banyak orang yang percaya secara mutlak, jika nuklir tidak mengeluarkan suara dentuman dari John Hersey. Sambil meletakkan gelas kopi saya kembali bertanya, ”Kapan kira-kira Indonesia bakal punya nuklir?”
“Sudah lama siap. Indonesia punya banyak orang yang sanggup bikin nuklir. Tapi gak ada fasilitas dari negara.”
“Bukannya negara yang boleh punya nuklir itu yang dianggap tidak pernah menyalahi hukum HAM?”
“Gak lah, masalah undang-undang cuma lobi-lobi politik dengan PBB, cuma masalah siapa yang paling kuat saja.”
Beberapa jam setelahnya saya diantar Fawas ke halte busway. Saya hendak memenuhi janji dengan seorang teman jurnalis untuk menemaninya ke Petak Sembilan. Dia sedang membuat foto esai tentang kegiatan di Klenteng tertua Jakarta.
Di depan peron busway saya bertanya, “Mbak, ke Glodok lewat mana?”
“Sana,” singkat sekali dia menjawab sembari  menunjuk ke arah ruang tunggu.
“Mana mbak, kiri atau kanan?”
“Sudah sana!” raut mukanya menampakkan kemarahan.
Betapa tak ramahnya petugas busway trans jakarta. Kemudian saya terpaksa masuk ke ruang tunggu. Tempat duduk model berderet hanya ada di bagian ujung. Ada belasan orang yang sedang menunggu, namun kursi tersebut hanya diisi seorang perempuan. Di bagian kanan dan kiri ruang tunggu terdapat tiga pintu. Satu pintu khusus bagi penumpang wanita dan dua yang lain agar tak terlalu berdesakan masuk.
Seperti kebanyakan orang, saya memilih untuk menunggu sambil berdiri tepat di depan pintu. Ini cara termudah agar bisa cepat dan sigap masuk ke dalam bus way. Di depan saya terdapat jalur khusus busway. Namun lebih dari setengah jam saya menunggu, sudah ada 38 sepeda motor yang melintasinya dengan sangat cepat sekali.
Dari Halte Busway Glodok saya melihat di sebrang jalan teman saya sudah menunggu. Kemudian kami menuju Petak Sembilan. Gang menuju Klenteng Kim Tek le, Vihara Dharma Bhakti sebesar ukuran satu setengah lebar mobil. Di jalan masuk terdapat puluhan lampion kecil yang masing-masing menyala merah. Ujung kawat pengait lampion itu diikat di rumah warga. Cara orang-orang memperlakukan kesakralan imlek indah sekali.
Ketika mengarahkan pandangan kebawah, para pengunjung akan mendapati bagian tengah jalan yang berlubang-lubang. Malam ini seluruh  lubang terisi air berbau busuk. Keberadaan para pedangan berderet sepanjang bibir gang, menambah kuatnya aroma khas pasar. Sisa-sisa dagangan sayur dan sampah plastik berserakan. Di samping kanan mulut gang, terdapat seorang penjual sate yang barang dagangannya dikerubungi 5 kucing.
Ternyata klenteng sudah tutup. Pintu masuknya tak dibuka lebih dari jam sembilan malam. Di depan pintu masuk klenteng yang digembok, tiba-tiba hadir tujuh orang. Masing-masing dari mereka membawa alat musik. Ada gitar, gendang, kecrek, microphone, dan empat sound kecil. Hanya satu orang yang tak membawa alat musik, tangan kanannya memegang topi. Perempuan berkulit putih, make up tebal, dan alis palsu itu berkeliling sembari menyuguhkan topinya kepada warga di sekitarnya. Dia berharap orang-orang menaruh uang pada topi itu. Setelah selesai memainkan satu lagu dangdut, mereka berpindah tempat.
Kemudian saya berlari menyusul mereka. “Sudah dari mana aja nih?” Setelah mendapatkan ijin untuk memotret aktivitas mereka, saya bertanya pada perempuan tadi.
“Jauh, keliling dari Jembatan Lima.”
Setelah itu saya meloncat geli, ada seekor tikus berukuran besar tengah lari ke arah saya. []


*) Tulisan ini merupakan tugas yang diberikan oleh Janet Steele ketika saya mengikuti Kelas Jurnalisme XII Sastrawi Yayasan Pantau.

Senin, 04 November 2013

Lack of Local Government Concern with dunes, Jember Youth Held Save Gumuk

Dune is a mound -like hill, but the volume is smaller than a mountain . Jember first earned the nickname as the 'City of a thousand dunes'. But gradually it lost thousands dunes one by one. The environmental damage turned out to attract the sympathy of the community, the organization, and the band to join in the evening activities donation 'Save Dunes'.

Save dunes is a collective concern tangle of various communities in Jember. Activities led by the Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Jember city or Pers Mahasiswa (Persma) Jember took place on Saturday night (28/9) in Gumuk Gunung Batu, Jember, East Java. Then they work with the Sekolah Bermain, Cangkrukan Lewat Botol Kosong, and Young Gun Veins to develop the concept of save dunes. After that slowly other communities began to arrive to help event titled is 'A Thousand Dollar For Gumuk'.

According Nurmaida, Chairman of Supervisory Save dunes, "This event is simple. We do not think heroics to buy dune. But this event is our first step to unite among organitation, Lembaga Pers Mahasiswa, a community of Jember, and all walks of life together to preserve the dunes together," he explained. He also added Hopefully after this event, many students from diverse faculties and universities that conduct research on the dunes.

In his speech, Nurul Priyantari, S.Si, M.Si, Assistant Dean of the Faculty of Mathematics, University of Jember, really appreciate this kind of activity, "In the midst of an increasingly widespread news about juvenile delinquency, here we can be very entertained with concern you against nature. As the younger generation would have to have a concern for nature. I really appreciate all these events," he said. Nurul also added his hope that such an event is followed up with another activity that is more serious.

Gumuk Gunung Batu is one of the dunes in Jember poor condition. The dunes have lived half, while the others have been exploited. In the normal save dune, half broken landscapes are taken as the stage background. Additionally dunes decorated with lots of torches and the visitors who come are required by the route provided by the committee, which passed dunes prior to the location of activities.

Some indie band Jember who attended and participated filling the dunes save disclose their complaints regarding the condition of the natural environment. "We know the conditions in Jember dunes such as one that is behind us now. The event is at least made ​​us aware that there is a very critical thing," said Dion, Black Dog Vocalist. It is also revealed by Alex Gunawan, Vocalist The Penkors, "It is a great role for the dunes, and it makes perfect sense if we have to keep the existence of dunes that amount is not on the wane. Still maintain the remaining dunes. Hopefully many more who love dunes remaining," he said.

Save this event contains dunes Band Acoustic Performance, Poetry Readings, Dance Kedok Putih, Cangkruk'an, Collecting Coins For Gumuk, Empty Bottle Collection, Signature Solidarity Actions Save dunes, and Live Art Performing. Band Acoustic Performance by the band filled indie Jember some of them, namely, The Penkors, Black Dog, From This Accident, Pispot, Gudang Productions, and amusement.

While reading two poems by young poets and Jember ie Bahriz Halim Abdul Gani, be a reflection momentum. Therefore intends to encourage the reading of poetry visitors about the human desire to contemplate the damage natural ecosystems. "Fate must be formulated, where we were born and found myself as a human being," a piece of poetry that was read by Abdul Ghani. White mask dance then presented by the Student Activity Unit Kurusetra Arts, Faculty of Economics, University of Jember.

Performing a live art performances Jember street art activists in the location. With capitalize spray paint, the young artist is showing her skills in paint incised on the vinyl . Among Fiky Old Skull Hart Kore (OSHK), Dullboy OHSK, Asgar Fucking My Name (FMN), Mubin Tuban Rest, Nizar Everything of Art (EVA), Network of local artists Jember street art and drawing is joined together on-site activities.

In addition there is a series of events for the coin collection that became the core of the show dunes save dune. Piooner collecting donations to buy this dune has been around a long time by some nature lovers in Jember. They wanted to change the status of dunes as private property belong together. Therefore we intend to support the plan of buying dunes by collecting donations. [Dieqy Hasbi Widhana]

Stop Exploitation Dunes, Save Jember Future

Natural ecosystems including humans in it should move in a balanced manner . In Jember, exploitation dunes began to appear in 1990 . One of the content of the stone plate dunes, considered to have a high economic value if unloaded . Most of the dunes in Jember destroyed for the sake of a few people economically. Though natural dune formation is a phenomenon that is unique and one of a bona fide function as a buffer against natural disasters.

"We used to hear that the city of Jember thousand dunes. So the name is a nickname that's an identity. And that's true identity we want to take back. It used to be said there are a thousand more, now it is only six hundreds, including one that is behind us that conditions are exploitative. Looks like it is almost flat," said Cak Oyong, Founder of Sekolah Bermain .

For Cak Oyong, restore dunes that have been lost is impossible. "But there's still hope we can reduce exploitation actions of those who are rich," her said. Indeed, most of the dunes in Jember an individual property. Likely to prevent the emergence of exploitation dunes can still be done in various ways. Whether it's through persuasion by way of transmitting the discourse surrounding the dunes or the other function.

Ir. Wahyu Giri suspected cause of a destructive tornado Jember City a few months ago. "Case tornado in Jember city that's so weird, a few years ago there was something like that. Since 85 years I never was a story that never existed in Jember City tornado," he said. Previously there was no record in history that ever hit Jember tornado. Allegedly this kind of natural phenomenon arises because more and more dunes were destroyed. Of course along with the destruction of the function as a barrier dunes and wind breaker would go extinct as well.

According to Giri, in 2005, there has been discussion that led to a serious discussion about the dunes. At that time the discussion didapatan conclusion , that not all dunes in Jember to be rescued. However it must be sorted dune which one had to be rescued and dunes which can be converted into land to meet human needs. But there is no real continuity after the discussion was over.

Indeed if viewed Spatial Plan (Spatial) Jember is now being discussed, there was no dunes are a unique geological landscapes that should be saved . But being threatened everything for mine, exploitation. "Hopefully dune landscape geology to be included in the spatial plan," said Giri .

Additionally Giri also expressed hope in the future if successfully protected by dunes buy first. "If you bought dunes, his dream is waqf, sorry for the other religions, but I just termed it is a loss of waqaf property. I'm sure only friends who have not lost the right reward donations. Later ( dunes are bought ) for anything, do not be left unharmed only result is tolerable. But it could be a vehicle for education dunes, it could be to save or collect rare plants , all kinds lah , that dream can be built together," he explained. Until the date of July 26, 2013, funds collected by Wahyu Giri and nature lovers in Jember concerned with dune collected Rupiah 5,135,70.

On the other hand after 2005, source dunes surrounding literacy in Jember not develop. Like what was said by Lozz Akbar, Jember blogger, "If we type the JFC in google, it will find a lot of information. But if we type the dunes, will we get very little information about the dunes. At least we will meet in Parangtritis reference sand banks or maybe writing long nature lover friends. Yet if we think, before Jember Fashion Carnaval was echoed in the world, we actually already have a characteristic that is second to none in the world," he said.

As no reference about the development of dunes, it turns knowledge level of the dune Jember residents remains very low. "Yesterday, about a week ago, I put the logo of the save dune. Then a lot of people are asking, what is the dunes? Jember these people themselves are still many who do not know about the dunes," said Akbar.

Akbar also regretted mining rocks contained by dunes. He also hoped that this kind of activity provides awareness to the public about the importance of the function of dunes. "But unfortunately, dredged dunes slowly because a person of interest. Hopefully this event wrote awaken our memories with each other that can not be controlled dune individually, but together create," said Akbar.

Regarding the activities of Rohim Zabriansyah Hakim Judge, environmentalist, singer Sightseeing expressed his pride towards the implementation of the Student Press Jember save dune by cooperating with its network of collective work. "To save the event dune driving motor Persma comrades as Jember. Persma also not turn a blind eye, they also invite other communities. Salute for Persma comrades as Jember can invite all the community, including proactive invites fellow lover of nature , art , and punk comrades," he said.

The event was attended by hundreds of visitors aims to build public awareness of the importance of maintaining and caring for dunes in Jember. Indeed dunes in Jember mostly owned by individuals. But when the bear destroyed not only the impact but Indonesian Jember. Because dunes that had been protecting us from the presence of a natural disaster. [ Dieqy Hasbi Widhana]

Kamis, 01 November 2012

Menolak Lupa Pada Budaya Lokal

Dalam sebuah tradisi, terdapat identitas kedirian yang paling sakral. Keberadaan tradisi sendiri selalu menjadi dan mengada dalam kelompok, komunitas atau kolektivitas. 

Sabtu malam, sampai senin dini hari (28-29/07), Jember mencoba mengemas tradisi menjadi sebuah pertunjukan. Tradisi yang telah menubuh dalam kedirian Jember sendiri tersebut adalah musik patrol. Seperti yang diungkapkan dalam press release, panitia pelaksana Karnaval Musik Patrol XII (KMP XII), “Karnaval Musik Patrol merupakan sebentuk usaha untuk melestarikan kesenian tradisi yang mulai meredup eksistensinya karena tergeser oleh arus modernisasi.”

Kegiatan KMP XII ini, diselenggarakan kesekian kalinya, oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember (UKMK UJ). Kegiatan mengingat bersama tradisi khas Jember ini, bekerjasama dengan beberapa UKM Fakultas di UJ. Hal ini ditandai dengan meriahnya acara yang diisi oleh pertunjukan musik dari beberapa mahasiswa UKM Fakultas.

Awalnya musik patrol ini dikenal masyarakat Jember, sebagai permainan musik secara berkelompok, yang diarak menyisir jalan untuk membangunkan sahur di bulan ramadhan. Tim patrol yang menjadi peserta, berjumlah 16 kelompok diantaranya, Tourist Patrol, Putra Cempaka, Zhaller, Idola Musik Patrol, Irama Kenanga, Rebloker, Arepat, Repastra, Kantra, Putra Arsela, Ardatim, Larkam 7, Putra Bhirawa, Arekal, Tectona, dan Kharisma. Beberapa tim tersebut, memulai perjalanan dari Double Way UJ, kemudian harus menempuh rute menuju Jalan Mastrip, Jalan P.B. Soedirman, dan menyentuh garis finis di Jalan Samanhudi atau Alun-alun Kota Jember. 

Ketika sampai di garis finish, diadakan duel patrol yang berlabel ‘Patrol Carok’. Dalam duel tersebut, kelompok yang pertama menyentuh garis finis, berhenti sejenak di depan panggung, bertanding dengan urutan setelahnya, saling beradu ketangkasan memainkan musik patrol. 

Di sisi lain, nantinya di ujung kegiatan KMP XII ini, kelompok patrol akan diseleksi untuk mencari sembilan nominasi kejuaraan. Ragam nominasi tersebut adalah aransemen musik terbaik, desain artistik terbaik, best performance, aksi panggung terbaik, pemain seruling terbaik, vokal terbaik, instrumen terbaik, foto terbaik dan terfavorit. Total hadiah dari keseluruhan nominasi sebesar Rp 10 juta.[]

Minggu, 08 Mei 2011

Dua Ruang, Dua Agenda


Senin (20/12), UKMK menyelenggarakan pameran foto di gedung PKM. Selain telah disediakan makanan oleh panitia, beragam karya sastra pun dihadirkan. Beberapa diantaranya semisal penampilan band. Yang menurutku menarik dari acara itu, ialah ketika pertama kali kami hadir disambut oleh penampilan perkusi.


Permainan perkusi tersebut dipentaskan kurang lebih oleh tujuh pemain. Masing-masing pemain membawa alat yang berbeda salah satu diantaranya jimbe. Diawal penampilan, mereka hanya unjuk kekompakan dengan ritme pukulan jimbe yang berlainan. Saling mengiringi dengan cepat antara pukulan pemain satu dengan lainnya. Perlahan satu persatu dari mereka berupaya menunjukkan skil permainan alat musiknya. Tentunya dengan satu persatu bergantian lebih mendekat ke penonton. Banyak hal yang menarik disitu. Mulai dari kekompakan team sampai skil yang mereka tunjukkan. Bahkan di tengah permainan mereka meminta beberapa penonton memainkan alat musiknya. Akan tetapi suara permainan penonton yang malu-malu itu sangat jauh dari renyahnya penguasaan alat musik mereka.

Setelah itu berganti dengan iringan musik modern dari sebuah band. Banyak anomali sebelum mereka bermain. Seperti efek yang terdengar nyempling dan memekakkan telinga penonton. Hal tersebut tidak hanya terjadi waktu para pemain menyetem alat musiknya. Akan tetapi sering secara tiba-tiba berbunyi di pertengahan penampilan. Bahkan terjadi sedikit teknis yang mengganggu ketika salah satu gitar melody mati. Untung saja kesalahan tenis tersebut mampu diatasi oleh additional yang secepat mungkin memperbaiki sound. Sepertinya suara nyempling yang berkali-kali tersebut disebabkan oleh sound yang jelek. Hal itu terbukti ketika band selanjutnya bermain di atas panggung. Kemudian yang terdengar aneh ketika mereka memainkan music jazz tetapi masih terdengar seperti permainan rock.

Selain acara tersebut, ada juga acara yang tak kalah menariknya. Yaitu acara “perang pusi” di UKPKM Tegal Boto. Lain halnya dengan jumlah penonton ataupun peserta yang hadir dalam Dies Natalis UKMK. Lingkaran tak utuh yang hadir dalam agenda ini hanya lima belas orang. Tidak ada pembukaan dalam acara ini. Awalnya memang suasana membeku. Saling tuding siapa yang akan membaca puisi di awal pertemuan. Ditengah topik yang ketika itu terasa tidak akan melelahkan tiba-tiba Cak Kandar masuk ke TB. Nah, pada akhirnya dialah yang menjadi korban sasaran pembaca puisi di awal. Tidak seperti kami, Cak kandar tidak berupaya membentengi diri denga ribuan alasan untuk melarikan diri. Akan tetapi tanpa basa-basi dia langsung berdiri di tengah lingkaran dan membacakan beberapa puisinya. Dia hadir bersamaan dengan riuh tawa kami. Dia seperti matahari yang dengan sekejap mampu mencairkan suasana forum tersebut. Kemudian disusul satu persatu dari peserta forum.

Ketika mas Lutfi mendapat giliran membacakan puisinya. Dia malah memilih membaca puisi milik orang lain. Puisi tersebut menjadi suatu hal yang menarik karena berbahasa Madura. Kemudian puisi tersebut yang menstimulus topik forum untuk beralih segera beralih. Topik diskusi pun beralih seketika membahas puisi lokal ataupun tradisional. Yang pertama memberikan tanggapan ialah mas Arys, dengan mengatakan jika puisi lokal memang mempunyai ketertarikan. Menurutnya puisi tersebut mengandung kekayaan dan misteri, ketika tidak diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Disusul dengan argument mas Widi yang mengatakan jika pusi tradisional itu struktural banget. Dalam artian selalu patuh pada sajak ABAB dan lain sebagainya. Kemudian keterbatasan malam yang semakin larut menumbuhkan inisiatif untuk segera diakhiri. Diiringi beberapa awak TB yang berjanji akan memnyambung agenda tersebut di kemudian hari. Acara tersebut di tutup oleh puis berjuduli “untuk apa puisi ini” karya OO_Zaki. Tentunya dibacakan oleh sang fasilitator tamu yaitu tuhan, master, sang legendaris, calon wisudawan Edi Wibowo YME. []

Minggu, 09 Januari 2011

Rektorat Akan Merespon Lewat Pengiriman Hasil Investigasi ke Seluruh UKM UNEJ

Rabu (5/1) perwakilan Forum Komunikasi Mahasiswa Unej (FOR KAMU) berupaya berdialek dengan rektorat. Pada dasarnya mereka ingin bertemu dengan Rektor, akan tetapi humas dan satpam Rektorat mencoba mengalihkan agar Forkamu menemui Pembantu Rektor I. Tentunya dengan dalih bahwa ini adalah perintah Rektor.

Setelah penantian selama 30 menit, akhirnya perwakilan rektorat menerima kedatangan Forkamu tepat pukul sepuluh pagi. Dialek tersebut dihadiri oleh PR I, Humas, Kemahasiswaan, dan sebelas orang mahasiswa. Tujuan dari pertemuan tersebut ialah menindaklanjuti pertemuan sebelumnnya. Salah satu diantaranya mengenai permintaan untuk mengadakan forum terbuka. Forum tersebut nantinya sebagai jembatan untuk mempertemukan antara mahasiswa Universitas Jember (Unej) dengan pihak rektorat. Dalam artian Forkamu berupaya memberikan wadah untuk menampung demokratisasi di lingkungan kampus.

Diawal pertemuan PR I meminta masing-masing perwakilan mahasiswa dari beberapa fakultas untuk memperjelas siapa mereka. Semua mahasiswa tersebut mengaku jika mereka hadir atas nama personal bukan organisasi intranya.

Sedikit terjadi miss komunikasi antara PR I dengan Forkamu terkait maksud kehadiran mereka. Hal tersebut ditengarai karena belum adanya koordinasi sebelumnya antara Rektor, humas, dan PR I yang sekarang menerima kedatangan Forkamu. Hingga menyebabkan pada akhirnya beberapa perwakilan Rektorat yang ikut pertemuan dengan Forkamu sebelumnya dipanggil ke ruangan pertemuan itu. Kemudian disana terjadi pengulangan informasi dan renik-renik isu yang membuat Forkamu meminta mengadakan forum terbuka.

Beberapa saat kemudian PR I menganggap permasalahan tersebut adalah kasus yang tidak dialami semua fakultas. Sehingga pihak rektorat akan terlebih dahulu mengkonfirmasi ke tiap fakultas. “saya akan menanyakan ke tiap fakultas, apa benar diterapkan”, jelasnya. Dia juga menjelaskan akan melakukan metode semacam penyebaran intel di tiap fakultas.

Selain itu, dia juga merespon beberapa permasalahan yang dibawa Forkamu tersebut. “nanti saya akan mengirim ke seluruh UKM terkait keluhan-keluhan anda”, dia berupaya memberikan kepastian. Sekitar pukul 11.00, kepala humas selaku moderator menutup pertemuan tersebut.