Urban Protest Against Fuel Price Hike

Planting seeds reversing the city walls

Combing Into Jogja

Spend the twilight alone

Carnaval Music Patrol XII Jember

Sabtu malam, sampai senin dini hari (28-29/07), Carnaval Music Patrol (CPM) merupakan sebentuk usaha untuk melestarikan kesenian tradisi yang mulai meredup eksistensinya karena tergeser oleh arus modernisasi. Kegiatan CMP XII ini, diselenggarakan kesekian kalinya, oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember (UKMK UJ).

Abrasi di Bibir Papuma

Jember (13/01) dini hari beberapa teman mencari nasi menyisir warung, mereka berjalan pelan-pelan lewat belakang warung.

Berdagang di Pasar Tradisional

Para pedagang di Pasar Tanjung Jember yang memulai aktivitasnya dini hari.

Rabu, 28 Maret 2012

Zaman Batu Dalam Kelas

Pernah suatu kali, di dalam kelas, dosen saya bercerita tentang konten salah satu rubrik di kompas. Dengan sangat ekspresif dia bercerita. Cerita yang menurut saya sedikit menguras waktu karena tak ada hubungannya dengan mata kuliah yang harusnya dia ajarkan. Perlahan saya mulai bosan, dia kira saya gak bisa membaca apa kok pake diceritain segala.

Di sebelah kanan saya ada deretan jendela-jendela berukuran besar. Sambil mengarahkan pandangan ke kanan dan melihat mahasiswa lain yang sedang lalu-lalang, saya masih bisa mendengar ocehan dosen itu.

Tetap memandang jauh ke luar jendela, saya memikirkan apa yang sedang dosen itu ceritakan. Intinya dia sedang bercerita tentang suatu daerah terpencil di pulau Papua. Ya, cerita yang sebetulnya bisa disampaikan dengan sederhana, akan tetapi sang dosen lebih senang menyampaikan cerita dengan cara berbelit. Mungkin dengan berbelit, segala hal terkait kekuarangan informasi yang dia dapat sebelumnya, akan sangat mudah ditutupi. Seolah dia tau segalanya. Uh, sayang sekali Bu. Anda gagal menceritakan nama daerahnya, bukannya Papua tak lebih kecil dari koran yang anda baca? Terlebih nama sukunya?

Begini, yang saya tangkap dari cerita sang dosen. Ada suatu daerah yang masih mirip dengan Zaman Batu. Maksudnya masyarakat di daerah itu masih menggunakan batu sebagai alat utama dalam menjalankan kehidupan. Kemudian dosen itu sedikit menarik bibirnya ke atas, cukup kentara dia sedang menyampaikan ekspresi sinis sambil berkata, “Ternyata di zaman semacam ini masih ada Zaman Batu di daerah Papua.”

Kemudian sepulang dari kuliah yang membosankan itu, saya berbincang sedikit hal terkait cerita sang dosen itu. Saya hanya bisa berkata pada teman-teman, “Ini kan aneh, Zaman Modern yang sedang meliput Zaman Batu kemudian menginformasikan lewat koran!” Akan tetapi teman-teman saya lebih senang menjawab kegelisahan saya dengan cara berdiam diri.



Mengapa ada ‘Periodesasi Sejarah’?
Di saat senggang, saya sering sekali melamunkan cerita sang dosen itu. Kemudian saya sedikit mengingat tentang perdebatan terkait permasalahan ‘periodesasi sejarah’ dengan teman-teman ngerumpi filsafat (Ngufil) dulu. Ya, beberapa teman pernah protes, “Ngapain sih bahas filsafat dengan peta periodesasi zaman.” Yang mereka maksudkan, mengapa kami ngobrol tentang filsafat yang dibatasi oleh zaman. Misalnya abad pertengahan ada tokoh siapa saja, pemikirannya bagaimana, dan sebagainya.

Saya masih ingat perdebatan tentang hal itu sampai panjang sekali, hanya karena saya pernah mengajak mereka berdiskusi tentang filsafat, yang tema diskusinya adalah filsafat abad pertengahan. Setelah itu kami mencoba belajar filsafat sambil meruntut pemikiran satu-persatu tokoh dimulai dari Thales.

Lantas bagaimana saya bisa lolos dari perdebatan panjang itu? Saya hanya berkata pada teman Ngupil saya, jika periodesasi sejarah itu mempunyai fungsi mempermudah memahami suatu konteks dengan batas yang sudah disediakan. Karena dalam setiap konteks mempunyai ciri khas berlainan dengan konteks yang lainnya oleh karena itu bisa diberi batas. Maka dari itu dengan periodesasi, kita bisa dengan mudah membayangkan karakter zaman. Ketika seorang teman menyebutkan zaman Pra-Socrates (Periodesasi yang dibuat Betrand Russel), maka kita akan membayangkan Athena yang penuh mitos tentang Dewa-dewa dan bagaimana cara manusia memahami alam raya.

Akan tetapi Taufik Abdullah juga pernah mengatakan fungsi kedua dari sebuah perodesasi sejarah. Bagi Taufik fungsi kedua tersebut ialah untuk menunjukkan kepada kita perihal bagaimana sebuah masa lalu itu harus dipahami. Tentu saja hal ini akan merujuk pada basis ideologis penentu periodesasi. Dalam suatu contoh misalnya Moh. Yamin pernah membagi sejarah Indonesia menjadi lima zaman yang berujung pada ‘Abad Proklamasi’. Bisa dilacak kemudian jika Moh. Yamin mencoba membangun rangkaian sejarah melalui perspektif atau sudut pandang yang mengagungkan sifat Nasionalisme. Mulai titik awal sampai akhir, yang berperan dalam sejarah adalah bangsa Indonesia yang pada akhirnya Happy Ending.



Beda wilayah, beda zaman
Kembali lagi pada pokok permasalahan yang saya temui lewat cerita sang dosen. Bagaimana suatu zaman bisa saling berbeda dengan wilayah yang lain.

Memang salah satu cara mudah untuk memahami masa lalu adalah dengan menyediakan beberapa patokan (periodesasi waktu). Dan menemukan terlebih dahulu hal apa yang menyebabkan bagian mana dari peristiwa atau periode waktu itu penting untuk menjadi sejarah. Mungkin karena betapa banjirnya peristiwa masa lalu. Maka dari itu harus disarikan, karena akan mustahil kalau semua dituliskan atau menjadi sejarah.

Selain itu, Taufik Abdullah juga pernah mengatakan bahwa sejarah tidak hanya mengenal pembatasan waktu. Akan tetapi juga terdapat pembatasan wilayah atau spasial. Maka dari itu jika terdapat suatu wilayah yang telah masuk sebagai ciri khas zaman modern, tidak menutup kemungkinan terdapat wilayah lain yang masih berada dalam zaman batu.

Tiba-tiba saya jadi memikirkan hal yang harusnya kita pikirkan bersama. Bukankah Proklamasi Kemerdekaan atau pernyataan jika Indonesia telah merdeka hanya dilaksanakan di Lapangan Ikada Jakrta? Lantas apakah hanya Jakarta saja yang merdeka?




Rabu, 01 Februari 2012

Sedang Menghamba Pada Imajinasi #1

Malam ini saya merasa agak aneh. Seharian baca buku memang tak ada bedanya dengan seharian berada dalam perjalanan. Menjadi lebih akut ketika perjalanan itu ditempuh dengan menaiki perahu sampan, bercadik lima, berlayar dua belas, dan sebagainya.
Setelah perahu merapat ke pinggiran pantai. Bisa dipastikan siapapun yang menjadi mantan penumpangnya akan merasa aneh. Efek yang ditimbulkan, tentu saja setelah itu kalian akan berjalan di atas tanah dengan sangat limbung. Seraya masih berada di atas derasnya ombak laut. Akan beruntung sekali sepertinya. ketika turun dari perahu. Tak ada sedikitpun makanan dalam perut yang tiba-tiba ingin eksis di dunia luar. Ataupun sekedar memberontak sembari  mengintip sedikit, sebenarnya seperti apa sih dunia di luar sana.

Saya rasa anda sendiri  pasti pernah merasa aneh. Ya, semacam keanehan ketika dengan sangat tiba-tiba anda menyadari jika diri anda sendiri ternyata aneh. Sebentar. Begini saja. Agar lebih mudah memahami maksud saya tadi. Cukup pikirkan saja, jika anda kebingungan dengan apa yang telah saya katakan tadi. Maka itulah fase terindah dalam hidup anda. Mungkin karena anda telah tergolong manusia yang meloncat dari batas kenormalan seseorang.

Maka dari itu, segeralah berpesta layaknya orang paling beruntung.  Atau setidaknya merayakan dengan diam-diam. Ataupun yang lebih tidak mengganggu orang lain. Coba rayakan semeriah mungkin, akan tetapi sebisa mungkin, anda sendiri jangan sampai tau jika anda sedang merayakan keberuntungan itu.

Sebenarnya saya sendiri merasa tidak enak badan hari ini. Sungguh terdapat penyakit aneh yang tiba-tiba datang menikam sisa hidup saya. Sebuah penyakit tanpa raga dan warna. Penyakit yang mungkin hanya bia dirasakan tanpa diketahui wujudnya. Ya, penyakit keanehan.

Memang tidak terlalu mengganggu kehidupan. Akan tetapi membuat saya lebih sering berpikir hal-hal yang aneh. Misalnya saja. Saya pernah berpikir bagaimana rasanya menjadi ikan asin. Ya, ikan asin. Ditangkap, dibekukan, dibelah, kemudian diasinkan. Bukankah ini proses pasca kelahiran yang menegangkan.

Pemikiran saya mensistematiskan konsep awal. Yaitu menjadi ikan asin. Setelah sistematis, maka terdapat rangkaian peristiwa atau runtutan momentum. Tentu saja mulai dari bagaimana saya menjadi ikan yang ditangkap.

okelah saya akan memulainya.
                                                                               ***


    Siang ini saya sedang berenang-renang mencari tempat yang agak sepi. Keriuhan di kota ini hanya terdapat di seputara titik nol atau tengah kota. Akan tetapi tak seperti biasanya. Kali ini kota terasa sepi. Suasananya seperti teranyam dari lembaran-lembaran ketakutan yang saling menindih satu sama lain.

“Ada apa dengan kota?” tanya seekor ikan tua dengan ukuran jenggot yang lebih panjang dari tingginya gedung BCA di kota ini.

“Biasa,” sambil ngupil dan dengan nanda yang sangat datar saya menjawabnya.

Ikan tua berdaster merah-kuning polkadot itu mendadak menunjukkan ekspresi agak sinisnya. “Woh, rek-arek enom jaman saiki mak koyok ngene kabeh. Beh, ora ono sopan-sopan’e nang wong tuwek. Penggaweane ku-mlaku nang ndi-endi gak jelas bluas,” ujarnya.

Sepertinya saya merasa, kalau saya memang harus terlihat agak kaget mendengar kalimat dari orang tua itu. Agar pertemuan kami sedikit terasa lebih dramatis. Dalam artian dapet soulnya.

Kemudian saya berkata, “Loh bapak reng Jember toh, waaah wes suwe ora nang kene.”

Wajah ikan tua itu tiba-tiba berubah. Dari merah menjadi agak merah sedikit. Sungguh peralihan yang begitu instan. Lalu bapak tua berkata, “Loh sampiyan kok taok lek aku wong Jember? Begh, jek tas’an ae aku ngenteni nang kene le.”

Sambil menggaruk-garuk kepala lantas saya meneruskan obrolan sesama dengan sesama ikan. “Yo ngerti lah pak. Bosone riko loh Pandalungan banget. Sampiyan nyapo toh nang kene, ayo ngopi ae!”



Bersambung ah, ngantuk soale… nanaa.. nanana.. subidu bidu.. pam..pam..

Minggu, 29 Januari 2012

Pulang

Apa yang kalian rindukan dari kepulangan. Atau mungkin yang seharusnya disebut sebagai kepergian. Pernahkan kita memikirkan, mengapa rindu rumah? Sebenarnya apa yang kita rindukan dari sebuah rumah. Kenyamanan yang membuat kita semakin merdeka sebagai spesies manja. Atau kasih sayang orang tua yang berlebihan itu. Entah kita sadar atau tidak, jika kita adalah mahasiswa. Ya, suatu elemen dalam masyarakat yang sekaligus terpisah dari masyarakat itu sendiri. Ah, tapi saya hanya ingin bercerita sedikit tentang perjalanan.

Saya memang tidak terlalu suka dengan perjalanan. Pernah suatu hari seorang teman dari Zine personal; Halimun, meminta tulisan saya tentang perjalanan liburan ketika lebaran. Ya, saya tetap menulis. Setelah tulisan itu dilayout, saya baru tahu jika menjadi satu-satunya sosok liyan yang membenci (baca: tidak terlalu suka) perjalanan. Bagaimana tidak, yang saya tulis hanya seputar, jam berapa bangun, baca buku apa, setelah itu hari berganti. Dan di hari berikutnya terjadi pengulangan cerita yang begitu lagi.

Jadi ingat kemarin, jumat subuh (27/2). Baru mendapati tempat duduk di gerbong lima, ketika selesai menaruh barang, langsung terasa kepala saya agak pusing. Kemudian pada teman yang kebetulan pulang bareng, saya memaki, “Jancuk, jek tas oleh longgoh wes ngelu ndasku.” Tidak jelas juga. Saya sedang memarahi diri sendiri lewat orang lain. Sudahlah.

Kemudian cara paling sederhana mengatasi rasa pusing yang agak alay itu, ya terpaksa saya harus ngajak ngobrol teman saya. Akhirnya berhasil, sedikit mengeksploitasi waktunya. Tapi memang karena mulai dari semalam kami berdua belum tidur. Jadi terpaksa di paragraf tertentu, obrolan harus saya hentikan. Tentu saja kehabisan bahan obrolan, tapi mending sebut saja kalau saya sedang memberikan ruang agar teman saya istirahat.

Maka, tibalah saat dimana saya merasa sepi. Memang, di saat tertentu, saya selalu berdebat dengan diri saya sendiri. Seperti ada dua atau tiga pikiran di dalam diri saya yang saling berlawan. Asik rasanya, tinggal tentukan saja apa topik yang harus dibahas.

Barangkali perjalanan ini akan lebih berarti kalau saya bisa tau, sebenarnya untuk apa saya melakukan perjalanan. Pulang atau pergi. Lalu, mengapa saya lakukan?

Indrian Koto dalam sajaknya mengatakan jika, kepergian adalah bentuk dari kepulangan yang lain. Apa yang sebenarnya ingin Koto sampaikan lewat kata-kata itu. Tentu saja saya tidak akan tahu. Tapi, mungkin ada yang lebih dari sebuah kepulangan. Barangkali Semacam ritual sederhana untuk sekedar menitipkan kelelahan karena kerinduan. Ya, sebuah kerinduan yang dihadirkan oleh jarak. Kemudian bertemu pada wadah yang tepat untuk menumpahkannya.

Kemudian Koto mencoba untuk meniadakan kepergian. Bahwa sesungguhnya pergi adalah pulang. Sedangkan pulang belum tentu pergi. Bahkan harusnya pulang tek pernah ada dalama kamus.

Sebagian besar kepulangan, selalu akan bertemu dengan orang-orang masa lalu yang siap menerima kita dengan hangat. Sedangkan kepergian ialah pertemuan dirimu dengan benda-benda baru yang sedikit asing.  Atau bahkan sesuatu yang tak pernah sanggup engkau ramalkan.

Sebentar.

Sebenarnya saya sedikit curiga dengan apa yang ingin Koto sampaikan. Jangan-jangan kepulangan yang sangat asing itu ialah ketika kita dijemput oleh kematian. Tentu saja jemputan dengan sangat tiba-tiba, senyap, mungkin penuh paksaan yang membuat kita hanya bisa menerima dengan pasrah. Ah, atau barangkali kecurigaan saya itu sendiri yang seharusnya bermakna sebagai kepulangan?

Sudahlah, lupakan. Saya hanya ingin sedikit bercerita sedikit tentang perjalanan yang sedikit.

Rabu, 18 Januari 2012

Combing Jogyakarta

"Bagi Dong"



"Menuju Pantai Selatan"



"Mengintip Kerajaan Modern Sultan"



"Ojek Payung"



"Bayar Nasi Kucing di Angkringan"



"Bidik Target"



"Mural Iklan Komersil"
istirat atau sibuk menanti?

valentino monkey
Habiskan Seja Sendiri


Rehat Menanggalkan Seragam

Sabtu, 31 Desember 2011

Nenek

Siang itu saya ngopi di warung Bulek. Ini siang yang terkesan sedikit cepat. Mungkin karena begitu tebalnya awan hitam melindungi atap rumah dari sinar mentari. Saya satu meja dengan empat orang teman. Setiap meja ada dua kursi panjang yang masing-masing muat diisi tiga orang. Kami berbincang tentang topik yang beragam.

Ketika empat kopi yang kami pesan hanya tersisa ampas. Datang seorang nenek tua mendekat kepada kami. Sambil mengulurkan tangannya dia meminta sedekah dari kami. Tanpa berpikir panjang beberapa orang dari kami memberinya. Sedangkan saya pun ikut merogoh kantong.

Sialnya uang saya tinggal dua ribu. Itupun untuk bayar kopi nanti. Kemudian saya ingin berbagi sedikit tentang nenek itu. Tentu saja dengan menyumbangkan pikiran. Saya berjanji akan menulis cerita tentang ini. Saat itu, tak ada yang saya punya untuk dibagi, selain tawa dan pikiran.

Setelah nenek itu pergi. Salah seorang teman saya bercerita. Ternyata nenek itu tinggal tak jauh dari sini. Parahnya lagi, nenek itu menghidupi lima cucu dari anaknya yang tak lama meninggal. Setelah teman saya bercerita. Kami hanya bisa diam. Dan mungkin berkhayal. Atau berimajinasi tepatnya. Tiba-tiba saya berimajinasi tentang suatu hal. Sistem perekonomian yang lebih muda dari pada Republik milik Plato. Sosialis.

Mungkin berawal dari keheranan yang berlebihan. Perihal beberapa negara yang sangat menginginkan sistem sosialis diterapkan, sebagai acuan jalannya perekonomian. Terlebih, mereka yang ingin menyusuri jembatan emas itu, demi sebuah tujuan yang murni. Negeri komunis.

Sebenarnya seperti apa gagasan ideal sistem tersebut. Hingga tak jarang untuk merealisasikan sistem itu memerlukan pengorbanan yang sangat lama. Tidak mengherankan jika sosialis partikular selalu menjadi sebuah ketakutan yang sangat besar. Bahkan akan selalu muncul pertentangan keras dari geng dogmatis islam, terkait sistem ini. Padahal jika mereka menyadari, jika islam telah merealisasikan sistem sosialis, semenjak tiga abad sebelum Karl Marx lahir, mungkin mereka akan malu. Ternyata islam itu cikal bakal komunis. Hah!

Saya pernah berpikir ulang. Bukankah sistem ekonomi sosialis telah lahir lama di sekitar kita. Misalkan saja di beberapa komunitas. Mereka bekerja atas dasar kolektivitas. Bahkan mereka sangat menghargai kebersamaan dalam kelas sosial. Tak ada jabatan tertentu yang membuat satu individu lebih agung daripada lainnya. Peran dan tanggung jawab menjadi milik bersama. Bukankah sudah banyak?

Jika dalam sistem kapitalisme, setiap individu harus berusaha memenuhi kehidupannya sendiri. Maka sosialis berlawanan dengan hal itu. Sosialis mengutamakan kebersamaan. Saling menolong untuk mencapai kesejahteraan bersama-sama. Identik sekali dengan apa yang Semaoen bilang, “Sama rata, sama rasa”. Atau “Satu untuk semua, semua untuk satu”.

Selain itu dalam sosialis, tak dikenal apa yang disebut dengan kepemilikan pribadi. Sehingga kekayaan material yang dimiliki masing-masing warga adalah sama. Bahkan sebidang tanah dimiliki dan dirawat secara kolektif. Secara bersama-sama tanah tersebut dikembangbiakkan. Misalnya dengan menjadikan tanah tersebut sebagai sawah, yang nantinya dirawat bersama. Ketika panen tiba, hasil tersebut dibagikan secara rata. Alat-alat produksi yang dimiliki secara bersama-sama akan menjadikan mudah untuk mengelola tanah tersebut. Dengan demikian warga tidak perlu menyewa traktor atau menyewa alat pemanen padi.

Segala macam alat produksi menjadi milik bersama. Pengelola diserahkan langsung kepada negara. Tak ada peran pihak swasta di sini. Sehingga ketika masyarakat ingin menggunakan alat produksi, maka mereka akan menggunakan secara gratis. Sedangkan kepala suku hanya bertugas mengawasi. Kepala suku?

Bisa dikatakan semacam itu, pemimpin pusat bukanlah seorang pe(me)rintah. Lebih jauh lagi mereka memaknainya sebagai pemimpin suku. Fidel Castro pernah bilang, kurang lebih seputar pengakuan atas dirinya, jika dia bukanlah pe(me)rintah, melainkan kepala suku.

Lantas apa bedanya? Wah, saya sendiri bukan pelajar yang fokus mengkaji masalah ini. Namun, jika asumsi sementara yang kalian inginkan. Mungkin kepala suku lebih dekat pada para anggota sukunya, daripada seorang presiden. Yang lebih kental lagi, seorang kepala suku akan terus berusaha mempertahankan budaya nenek moyangnya.

Di sisi lain, tak ada tekanan serius bagi pekerja di luar kemampuannya. Menurut Arief Budiman, apabila penekanan kapitalisme adalah setiap orang bekerja menurut kebutuhan pasar dan dibayar sesuai dengan prestisnya. Maka sosialisme mendasarkan diri pada, setiap orang bekerja menurut kemampuan dan dibayar menurut kebutuhannya.

Dalam hal ini, jika ada seorang nenek yang mempunyai kebutuhan tinggi untuk menyekolahkan kelima anaknya. Namun nenek tersebut tidak mampu bekerja terlalu berat. Maka, dia diperbolehkan untuk bekerja semampunya. Selain itu, akan mendapat upah kerja sesuai dengan berapa yang dia butuhkan. Bahkan upah nenek tersebut bisa lebih besar daripada seorang dokter yang hanya butuh untuk menghidupi dirinya sendiri, belum berkeluarga.

Nek, apa kita terlahir di negri yang salah?

Rabu, 23 November 2011

Membaca Sejarah Dalam Perspektif Kolonial

“Tidak ada sejarah yang betul-betul objektif”
(George Junus Aditjondro)


Ketika pertama kali saya membaca halaman depan buku dengan judul asli “De Cheribonsche Onlusten van 1818, Naar Oorpronkelijke Stukken”. Catatan Van der Kemp yang telah diterjemahkan oleh B.Panjaitan. Bayangan awal yang muncul ialah saya akan membaca sebuah buku sejarah yang tersebar titik atau koma lebih dari satu di setiap kalimatnya. Sebagaimana yang selama ini saya ketahui dalam setiap buku terjemahan. Namun ketika mencoba untuk membaca, jujur saya sangat sulit dalam memahami buku ini di setiap kalimatnya. Mungkin karena bahasa asli buku ini adalah Belanda yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ditambah lagi alpanya titik atau koma yang telah saya bayangkan sebelumnya itu ternyata sama sekali tidak bekerjasama dengan pembaca demi kemudahan memahami buku ini. Alhasil setiap kalimat akan terasa panjang dan menguras nafas.

Sejarah pemberontakan petani Cirebon  yang ditulis Van der Kemp ini diterbitkan oleh YAYASAN IDAYU tahun 1979. Berawal dari penerapan sistem liberal oleh Pemerintah Belanda. Van der Kemp  mengatakan pada tahun 1816 markas “Kaum perusuh” berada di Krawang, namun ditengarai jika perlawanan yang sebenarnya berasal dari Cirebon. Keputusan pemerintah tanggal 8 Desember 1816 No.41 memerintahkan kepada Residen Cirebon, agar mewaspadai dan mencari tau latar belakang perpindahan Jabin, yang bersama 20 orang anak buahnya berpindah dari Laummalang ke Cirebon. Pada 6 Desember pemerintah kolonial berniat memperketat keamanan militer yang keras. Hal tersebut karena laporan residen yang menyatakan bahwa kerusuhan meningkat. Namun keinginan tersebut gagal dilaksanakan karena hantaman dari Inggris berupa ejekan yang dipublikasikan beberapa media di Inggris. Akan tetapi ketika Inggris meninggalkan pulau Jawa tanggal 19 Juni 1817. Pemerintah Belanda berhasil memperkeras peraturan bagi tuan-tuan partikelir.

Pada pertengahan kedua Januari kepala distrik Blandong dibunuh oleh pemberontak yang berjumlah 100 orang. Dalam laporan Residen Bogor muncullah nama-nama baru para pemberontak, Bagus Diwongso (Serit) dan Nairem. Ketika opsiner kehutanan dikirim ke Cirebon, Praudants, dan berhasil menyelamatkan diri dari para pemberontak. Sedangkan Heyden bersama 60 orang berusaha menyerang para pemberontak dengan menunggang kuda. Namun akhirnya ia mendapat serangan di pagi hari dan terbunuh. Sedangkan kapten Joseph Gerrish merasa beruntung karena ketika ditawan oleh pemberontak ia berhasil melarikan diri.  

Surat Residen Cirebon tanggal 30 Januari memberitakan pendaratan pasukan di Batavia, disamping itu mengirimkan instruksi yang penting yaitu, serangan umum ditetapkan pada tanggal 2 Februari. Namun terjadi perselisihan antara gubernur jendral dengan panglima tentara. Akibat dari perselisihan itu serangan umum yang telah direncanakan menjadi gagal. Pada 4 Februari pemberontakan dan kerusuhan di Cirebon dipadamkan oleh Letnan Borneman dan Kapten Elout. Akan tetapi hanya Kapten Elout saja yang menerima penghargaan atas jasanya. Selain itu Neirem berhasil ditangkap dan keamanan telah pulih.

Serrit mengajak tiga sultan di Cirebon agar turut serta dalam pemberontakan yang dipimpin olehnya. Mengatahui hal itu pemerintah kolonial memberi kewenangan kepada residen, untuk mengumumkan bagi siapa saja yang mampu menangkap Serrit, hidup atau mati, akan diberikan hadiah F 2.200. tanggal 8 Agustus terjadi bentrokan antara pemberontak dengan pasukan yang dipimpin Kapten Krieger. Akan tetapi Serrit, pemimpin pemberontakan mampu melarikan diri. Di luar itu, Krieger, Residen De Rider, dan sultan sepuh mengejar para pemberontak yang melarikan diri. Pada akhirnya Serrit berhasil ditangkap. Serrit dan Neirem dijatuhi hukuman mati lain halnya dengan Sapie, Lejo, Ribut yang kemudian dibuang selama tujuh tahun sembari memakai rantai. Para tahanan lainnya, 14 tahanan dikirim ke Banda, untuk bekerja seumur hidup, 7 orang ke Banyuwangi, bekerja di kebun kopi. Krieger mendapat penghargaan besar atas jasanya karena telah berhasil meredam pemberontakan di Maluku dan Cirebon.

Tidak menutup kemungkinan Sumber-sumber utama yang dipergunakan oleh Van der Kemp, ialah dari arsip negara di negeri Belanda dan di Batavia. Bisa dikatakan pula jika penulis atau peneliti mengabaikan sumber-sumber Indonesia. Bukankah sumber lokal lebih peka terhadap masalah sosial di sekitarnya? Selain itu Pemerintah Kolonial Belanda selalu ditempatkan pada domain sebagai pencerah, pendorong kemajuan, dan senantiasa melindungi kepentingan penduduk asli.

lingkup temporal dalam buku ini adalah tahun 1818. Tahun 1818 menjadi batasan watu pada buku ini karena pada tahun inilah terjadi aksi pemberontakan petani di Cirebon. Sedangkan ruang lingkup spasial dalam buku ini jelas yakni di Cirebon, sebab kasus yang menjadi objek penelitian penulis ini terjadi di daerah tersebut. Dengan kata lain, penulisan sejarah dalam pembahasan buku ini merupakan sejarah lokal.  Dengan penulisan sejarah lokal ini diharapkan dapat memberikan kejelasan dan pengertian dalam perkembangan sejarah nasional, sebab sejarah yang ada di tingkat nasional, harus bisa dimengerti dengan lebih baik apabila kita mengerti pula perkembangan sejarah di tingkat lokal. Selain itu bagi sejarawan modern, ruang lokal menjadi patokan sebagai batas yang nantinya akan mempermudah dalam mengintepretasikan kondisi sosial, ekonomi, dan politik.


Sejarah nasional warisan kolonial
Sejarah nasional memiliki makna yang beragam. Historiografi nasional dapat berarti penulisan sejarah yang mengkrucut pada pembangunan sebuah nasion. Bisa juga dikatakan sebagai penulisan sejarah yang dapat diterapkan kepada negara atau bangsa tertentu. Dalam artian sebuah narasi sejarah yang memicu keyakinan setiap warga negara jika masa depan negara adalah milik mereka bersama. Dalam hal ini, Van der Kemp berupaya mengikat kesadaran warga negara Belanda dengan hasil penelitian berperspektif kolonialnya. Dengan adanya narasi besar ini maka akan muncul kesadaran bersama dan hasrat yang tinggi untuk melindungi negara.

Dalam penulisan sejarah berperspektif kolonial, ada sedikit perbedaan pandangan tentang kualitas moral pemerintah kolonial dengan peranan negara. Dalam buku ini misalnya, Pemerintah kolonial Belanda dinarasikan seolah pelaku utama yang mewakili pencerahan, kemajuan, dan senantiasa melindungi kepentingan penduduk asli. Dan penyempitan cerita pun dilakukan mengenai sebab pemberontakan, bagaimana para pemberontak mengorganisir massa, upaya kekerasan yang dilakukan oleh pihak kolonial, dan sebagainya. Van der Kemp sama sekali tidak menggunakan ilmu bantu sejarah dalam menjernihkan pandangan tentang keadaan sosial, ekonomi, atau politik khususnya wilayah Cirebon.

Memang setiap orang yang menentang Belanda akan diartikan sebagai pemberontak yang bar-bar, anti rust en orde, tidak tahu terimakasih dan yang sejenisnya. Sedangkan eksploitasi dan kekejaman Belanda tidak pernah ditampilkan, malah kekejaman yang ditampilkan oleh Belanda menjadi sebuah prestasi atas jasa para pejuangnya dalam memerangi kejahatan. Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Sartono Kartodirjo, “Tulisan mengenai sejarah indonesia oleh sejarawan Belanda atau sejarawan asing, yang sering meletakkan kekuasaan kolonial sebagai kekuatan sentral dan menyeluruh dibalik pengembang kehidupan modern dalam bentuk apapun di Nusantara.”

Jika ditinjau dari sumber-sumber yang dipergunakan oleh buku ini, sebagian besar adalah laporan-laporan dan surat resmi dari pejabat-pejabat, ketetapan pemerintah, catatan harian militer, berita-berita resmi. Memang otentisitas dokumen tidak perlu diragukan. Akan tetapi dokumen-dokumen pemerintahan itu ditulis dari sudut pandang para pejabat-pejabat kolonial. Pada akhirnya antara sudut pandang dan kecemasan pemerintah kolonial kala itu dengan pemberontakan kaum tani memiliki kuantitas yang sama.

Dari hal tersebut bisa dipahami jika sifat pokok dari historiografi kolonial ialah Eropa sentris atau pun Belanda sentris. Sepanjang peristiwa adalah serentetan aktivitas bangsa Belanda, pemerintahan kolonial, aktivitas para pegawai kompeni atau orang-orang kulit putih, berbagai hal tentang kegiatan para gubernur jenderal dalam menjalankan tugasnya di tanah jajahan. Maka dari itu, bisa dikatakan buku ini adalah sebuah sejarah warisan kolonial. Kala itu kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda menempati puncak hirarki sosial, ekonomi, maupun politik. Latar belakang mengenai hal ini bisa dikatakan, apabila fokus utama pembahasan adalah bangsa Belanda, bukanlah kehidupan rakyat atau kiprah bangsa Indonesia di masa penjajahan Belanda.

Pengkisahan sejarah itu jelas sebagai suatu kenyataan subyektif, karena setiap orang atau setiap generasi dapat mengarahkan sudut pandangannya terhadap apa yang telah terjadi dengan berbagai interpretasi individu. Setiap penulis berhak menyelipkan opini atau pun gagasannya mengenai sebuah peristiwa. Mungkin inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara jurnalistik dan historiografi. Sebagaimana mestinya seorang jurnalis hanya bertindak sebagai pewarta. Terlepas dari itu semua jurnalis akan melanggar kode etik jurnalisme, jika mencampuradukkan opini pribadi dalam hasil reportasenya. Oleh karena itu setiap opini pribadi dalam historiografi harus memiliki berbagai penyangga ataupun penguat pendapat itu sendiri.

Sebagaimana yang dikatakan oleh George Junus Aditjondro bahwa, “Tidak ada sejarah yang betul-betul objektif.” Bisa dikatakan jika objektifitas ialah sekumpulan subjektivitas. Yang terlebih dahulu diolah dengan berbagai kritik atau pun pertimbangan yang matang. Dalam hal ini Aditjondro berupaya mengatakan jika peringkat objektifitas ditentukan oleh seberapa besar sejarawan menekan subjektivitas. Mungkin lebih tepat bila dikatakan, bahwa objektivitas setinggi-tingginya diperoleh dengan menekan subjektivitas serendah-rendahnya. []

Sabtu, 15 Oktober 2011

Ngaji Surat Keragaman di Kening Ramadhan?

Sebagaimana tuhan yang tidak bertanggung jawab atas segala yang ia ciptakan. Maka kita bertanggung jawab atas takdir masing-masing dari kita. Entahlah saya tiba-tiba ingin bercerita tentang polusi pesan yang beberapa hari ini menimbun inbox saya. Ya, tentang ucapan permohonan maaf menjelang bulan yang mereka anggap sebagai area pemutihan dosa. Memang kedua teman saya yang telah menulis tentang hal ini, telah secara tidak langsung menggandeng saya untuk berbicara tentang hal serupa.

Pesan permohonan maaf tersebut mulai membentuk barisan tsunami sejak kaki-kaki bulan ramadhan menginjak bumi. Suasana di daerah sekitar saya tinggal pun berubah secara instan. Mulai dari beberapa manusia beranjak memenggal masa lalunya untuk bersedekah pita usara di masjid. Peserta ritual ngopi memadati setiap warung kopi yang berjajar di pinggir jalan. Jalanan yang macet mendadak kala menjelang sahur dan berbuka puasa. Cafe-cafe mendadak penuh, sampai  beberapa mobil tanpa permisi menyerobot jalanan umum sebagai ganti parkiran. Berita di media masa mana pun berbusa-busa memberitakan tentang harga sembako yang direncanakan naik, arus pulang kampung, kitab suci tanpa HAKI yang dijadikan modal lawakan yang diselipkan dalam tayangan televisi, dan sebagainya.

Memang, saya tidak pernah merasa marah ketika pesan dan segala rutinitas khas ramadhan itu memonopoli kehidupan saya. Ketika menjelang hari Natal beberapa bulan yang lalu. Saya pernah mengirimkan sebuah pesan pendek tentang ucapan selamat merayakan hari kesucian. Akan tetapi hampir semua orang yang saya kirimi pesan tersebut malah kembali menghantam saya bagai cahaya senter yang dihantamkan ke sebuah kaca cembung. Alhasil cahaya itu berbalik arah ke saya dengan cahaya yang lebih besar dan keruh. Yah, memang sebagian dari mereka malah memaki-maki saya.

Padahal ketika mengirimkan pesan tersebut. Salah satu yang saya pikirkan ialah, bagaimana caranya membagi sebuah kebahagiaan tersebut minimal kepada orang-orang yang dekat dengan saya. Tentunya atas dasar toleransi antar sesama. Yang saya pikirkan kemudian ialah, mereka pasti akan meniupkan makna atas pesan yang saya kirim tersebut. Maka dari itu saya sebagai pengirim pesan ialah orang pertama yang berhak mengedit dan menilai apakah pesan tersebut bisa diterima oleh mereka. Dengan pikiran itu saya lebih lega dan dengan segala keyakinan menjadi bulat untuk mempublish.

Sebagaimana puisi atau jenis tulisan apa pun. Pembacalah yang berhak meniupkan roh ataupun arti dari tulisan si penulis. Maka dari itu saya mengganggap pembacalah yang kemudian harus bertanggung jawab atas makna yang ia ciptakan atas karya penulis. Yah memang bukan malah sebaliknya dalam artian penulis yang bertanggung jawab. Karena penulis bukanlah raja otoriter yang berhak memberikan makna secara absolut atas karyanya. Misalnya ketika saya menuliskan hujan dan saya sebagai penulis menganggap arti kata tersebut sebagai sebuah keromantisan entah dengan tuhan atau sesamanya. Nah trus bagaimana dengan anak-anak keturunan komunis yang keluarganya dibantai gerombolan militer dikala hujan, memaknai kata hujan tersebut?

Aduh, di paragraf ini saya mulai binggung mau dibawa kemana tulisan ini...hahahaha...

Entahlah, mungkin karena warga negara indonesia ini terlalu banyak orang muslimnya. Padahal kalau kita bermukim di bali. Maka segala rutinitas khas bali harus dijalankan oleh siapapun. Misalnya ketika hari raya nyepi, semua orang harus mengistirahatkan rutinitas. Bahkan mentri agama pun merelakan orang islam mengikuti ritual nyepi tersebut dengan mematikan lampu, tidak berkeliaran di luar rumah, dan sebagainya.

Pastilah lagi-lagi atas dasar toleransi, mentri agama tersebut mengijinkan semua warga bali yang beragama islam turut dalam hari kesucian nyepi. Atau saya pernah merasakan ngekos di dekat masjid. Dan yang saya rasakan ialah polusi yang mendera selama lima waktu. Sampai saya pernah mengusulkan pada seorang teman. Mending setiap rumah dipasang semacam speaker dan alat peredam. Kemudian difungsikan sebagai alarm pengingat waktu berharap (asline berdoa). Nah, ketika alarm itu memekik keras, para tetangganya yang nonmuslim ostomatis tidak terganggu.

Tentusaja ketika pendapat saya tersebut diresmikan oleh negara. Maka yang terjadi ialah perlahan peradaban melangkah sembari menciptakan mahluk-mahluk planet yang individual banget. Hal ini pun serupa dengan berbagai kasus individual yang mendera kalangan teroris. Entahlah kelompok jihad tersebut mempunyai sifat yang dekat sekali dengan kefanatikan beragama yang berdasarkan atas kepentingan kelompoknya sendiri. Lantas toleransi dipukul rata bila apa yang kelompoknya senangi maka itulah yang menjadi kesenangan publik.

Sujiwo Tejo pakar Djiancuuk (lihat aktivitas twitternya) pernah mengatakan bila setiap individu yang terlahir sebagai warga negaranya, menganggap sesamanya hanya sebatas teman. Tentu saja aku ya aku. Kesenanganku adalah apa yang mereka senangi. Hal tersebut karena putusnya ikatan darah yang menjadikan aku adalah kamu sebagai saudara. Dalam artian tak ada ikatan saudara yang saling menggenggam rasa yang sama minimal dari dua orang manusia. Yang muncul kemudian ialah bagaimana cara memonopoli kesenangan di kalangan publik. Satu per satu dari kita saling berebut kesenangan pribadi demi kelangsungan hidup yang indah.

Bila rasa ialah tembok berlin. Maka muntahan moncong meriam ialah kesenangan individual yang sangat membenci toleransi yang siap menghantamnya. Akan tetapi apa yang terjadi bila setiap bata ditembok itu saling menghormati walapun harus saling menempati ruang kiri, kanan, atas, bawah tanpa saling iri?

Haruskan kita menunggu tuhan mengubah apa yang terjadi di dunia ini? Entahlah berapa milliar juta generasi yang harus menunggu tuhan menanam benih mukjizat pada salah satu diantara mereka. Bukankah setiap manusia ialah subjek dari sejarah. Entah si miskin, si kaya, atau si apapun ialah roda penggerak peradaban. Setidaknya itu menurut Pramoedya.

Jamput bingung maneh, arep digowo nank ndi tulisan iki...hehe.. ^_^’’

Para warga Renaissan pernah berhasil melewati masa suramnya dengan menganggap setiap dari mereka adalah subjek bagi dirinya sendiri. Dalam artian setiap orang bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Mereka mulai membenci apa yang sering diberi label sebagai mitos. Dan yang muncul ialah rasa saling menghormati antar sesama lewat aliran humanisme. Walaupun setelahnya Filsafat ketimuran pun bergentayangan di Alexandria.

Selain itu, dalam keadaan sehat, bukankah rujak komplikasi beraneka buah-buahan itu lebih nikmat daripada hanya sebuah mangga muda. Dan pelangi lebih indah dengan aneka warnanya dari pada biru langit. Maka dari itu segala campuran warna dari masing-masing kita bukanlah merupakan kekurangan bagi kita. Malah sebaliknya, kita akan semakin kaya dengan keaneka ragaman. Aku punya hitam kau punya apa, mari saling melengkapi. Sampai disini saya mengucapkan terimakasih banyak atas semua pesan khas momentum sesaat yang bermukin di inbox saya. Maklum, karena salah satu kakak saya bekerja di perusahaan operator selular. Tapi jangan sekali-kali mentransfer dosa lewat sms kepada saya, karena saya akan bersedia menelan dosa itu mentah-mentah. Gila, siapa yang mau masuk surga. Orang-orang di surga itu individualis banget. Saudaranya pada di siksa di neraka tapi mereka tidak membantu sama sekali malah beradu nafsu dengan kemewahan. Satu lagi, jangan kuatir setiap sms permohonan maaf yang dikirm kepada saya, akan langsung saya forward ke nomor tuhan.

 Mohon maaf sebelumnya, mungkin kesan pertama yang kalian dapatkan dari saya lewat tulisan ini, ialah saya sebagai mahluk tengik yang atheis. Tapi bagi saya itu tidak masalah. Tapi yang jadi masalah jika ada orang yang mengatakan Nietzshe adalah penganut atheis. Hahaha...

Sebuah Cerita

Apa yang sedang dikerumuni oleh mereka yang terlalu bosan dengan himpitan aktivitas kaum urban? Siapapun dia pasti akan mencoba mencari hal lain yang bisa dikatakan aneh. Namun hal tersebut yang pada akhirnya melekat pada dirinya sebagai sebuah ciri khas. Begitu juga jika hal ini dalam sebuah ruang bernama musik. Tentu saja musik kaum urban ialah musik independent yang sedikit aneh ketika pertama kali didengar.

   Independet yang saya maksud bukan pada penekanan bagaimana proses pendanaan mereka berjalan. Akan tetapi independent yang tertanam dalam aliran musik mereka. Ya, aliran musik yang sangat berlawanan dengan band popular masa kini. Semisal “.....”, “.......”, “........”, dan sebagainya yang senantiasa digandrungi kaum muda. Sory, saya malas menyebutkan nama bandnya. Biasanya aliran musik indie dicerca sebagai aliran aneh, jadul, amoral (masalah lirik), sebagian lainnya setia pada garis perlawanan.

   Saya memang sama sekali tidak mempunyai latar belakang yang wah di bidang permusikan. Begh, apalagi jika harus mendefinisikan aliran apa yang di usung masing-masing band di indo. Tentulah saya akan menjawab tantangan itu sambil menggigil ketakutan sembari menggali kembali bakat ngibul. Lantas mengapa saya ingin menulis tentang musik indie? Atau jangan-jangan pembahasan indie ini hanya jebakan di awal tulisan dan tentu saja diakhiri dengan beberapa kalimat mengecam tuhan. Oh, tidak..!! kali ini saya hanya ingin bercerita (daripada nonton tv) mengenai musik aneh yang indah. Tapi mungkin saja saya sedang berbohong..haha yang penting saya hanya bisa meyakinkan anda jika cerita ini bukan tentang peri, angsa, putri cantik, dan semacamnya.

   Ketika masa SMA dulu, semacam ada hobi yang selalu datang tanpa bisa diramalkan kemudian menyerang keseharian kaum sebaya saya. Yaitu musim ngumpul dengan sesama pecinta aliran musik. Misalnya mereka kerap menyebut anak punk (kalo gak salah biasa ngumpul di media alfa), pecinta cobain anak grunge, anak hiphop yang biasanya main breakdance di lapangan dan alun-alun kota, yang terakhir anak metal yang sering disebut underground. Aneh, saya kenal beberapa anak di semua lini aliran musik itu. Tapi tak satupun seluk beluk aliran musik mereka yang saya tau.

   Pernah suatu kali saya main ke tempat teman saya yang katanya anak punk. Ketika dalam perjalanan ke rumahnya, saya bertanya banyak hal mengenai punk. Sesampai di rumahnya malah teman saya memberikan beberapa lembar kertas fotokopian yang isinya membahas mengenai scene musik yang ia gandrungi. Belakangan saya memikir ulang, mungkin yang dia berikan waktu itu adalah sebuah media alternatif bernama zine. Tapi saya terlalu lugu untuk bertanya mengenai hal yang tidak terlalu penting.

   Saya masih ingat, tulisan pertama yang saya baca waktu itu tentang sosok yang bisa dipanggil Waga. Entahlah itu kisah nyata ataupun karangan tapi saya sangat menikmatinya. Seingat saya, ada seorang tokoh bernama Satu-Dua-Tiga (serius, namanya emang itu) dengan perilaku menyimpang dari orang kebanyakan. Orang tua si Waga sangat mapan sekali perihal mengelola jantung perekonomian keluarga. Akan tetapi Waga mencoba berlari menjauh dari dunia keluarganya yang terlalu mapan itu. Dengan bermodal vespa, saya lupa di Malang dia ngontrak atau ngekos ya, pokoknya di kamarnya hanya ada satu poster. Poster bergambar tokoh Sakera. Dalam hal penampilan memang aneh sekali. Rambutnya dibiarkan separuh panjang dan separuhnya lagi botak begitu juga dengan kumisnya. Setiap harinya Waga hanya mau makan masakan indonesia khususnya jawa seperti rawon, lodeh, dan sebagainya.

   Tibalah suatu saat dia melintasi perempatan di jalan rampal (malang) tanpa mematuhi instruksi lalu lintas. Dengan vespa tuanya yang dipacu berkecepatan tinggi. Tanpa ia sadari ternyata ada seorang polisi yang mengejarnya, kemudian berhasil membuatnya berhenti dan menepi di bibir jalan. Lalu polisi itu sedikit kaget ketika mengetahui penampilan Waga ketika ia membuka helmnya. Tanpa memikirkan hal aneh itu terlalu panjang kemudian dia bertanya pada Waga.

“Mana surat-surat anda?”
“Sura-surat bapak mana?”, Waga malah balik bertanya.
“Jangan main-main. Saya sebagai petugas berhak meminta surat-surat anda” polisi itu sedikit menekan.
“Loh, saya sebagai warga negara juga berhak meminta surat-surat bapak” Waga malah memberikan serangan balik.

   Saya lupa percakapan selanjutnya seperti apa. Yang saya ingat setelah adu mulut itu berujung pada adu jotos. Kemudian kedua polisi yang sedari tadi mangkal di pos ternyata turun tangan juga. Ujung dari semua itu adalah tiga peluru yang bersarang di tubuh Waga. Semacam peradilan di tempat yang sangat tidak manusiawi. Bahkan bisa dikatakan Waga dibunuh tanpa melalui proses peradilan. Hal itu terjadi karena kesenjangan sosial atas nama profesi. Polisi yang semula menjadi pengaman bagi masyarakat malah justru menakut-nakuti masyarakatnya sendiri. Sekarang saja bila kalian bertemu dengan polisi apa yang kalian rasakan. Perasaan aman dan tentram? Mana mungkin, walau tak punya salah pun kalian pasti akan sedikit merinding.

   Setelah itu waga dimakamkan. Tepat di nisan Waga, beberapa temannya menulis, “Satu Dua Tiga punk sejati”. Itulah penghargaan terakhir dari kerabatnya. Cerita di atas memang tak secara persis sama dengan apa yang saya baca sekitar lima tahun yang lalu. Tapi saya yakin kurang lebih ceritanya semacam itu.

   Setelah itu saya ngobrol sedikit hal seputar punk. Sambil ngobrol mata saya menyisir seluruh bagian area kamar teman saya. Di pojok saya melihat sepasang sepatu bots warna hitam dengan talinya bewarna hitam juga. Dia juga cerita mengenai perbedaan pada warna tali sepatu itu. Betapa herannya saya ketika dia mengatakan jika punk power white itu pake wana putih, sedangkan punk nazi pake warna merah. Yang membuat saya terheran-heran ketika punk punya lebih dari satu ragam jenis. Entahlah saya tidak tau banyak mengenai hal itu.

   Terakhir ketika dia mengantarkan saya di perempatan Bonagung untuk mencari bus. Berkali-kali dia meyakinkan jika punk anarko itu bukan terfokus pada tindak anarki semacam suporter bola. Punk anarko itu punya kebersamaan yang kuat dan selalu dianggap galak karena selalu mencoba melawan ketidakadilan. Terkesan seperti terlalu muluk-muluk ya. Tapi itu memang apa yang teman saya katakan waktu itu, meskipun higga kini orang yang dia ajak ngobrol itu tidak tahu sama sekali tentang apa itu keadilan.

   Sesuatu yang aneh dari teman saya. Dia tidak berambut mohawk berbahan lem kayu rajawali. Biasa saja masalah rambutnya. Cuma dia kerap kali memakai (apa ya itu namanya) hitam-hitam yang dioleskan di sekitar mata. Selain itu selalu memakai celana street. Sampai model celana seragam SMA pun dibuatnya versi street. Saya sering diajaknya nonton gigs yang paling mahal tiket masuknya seharga dua ribu. Sialnya seringkali selalu menolak ajakan itu. Sebagai gantinya saya berjanji akan mendengarkan cerita tentang event itu di warung kopi. Ah, saya mendadak merindukan masa lalu. Yang paling saya ingat sembari tersenyum teman saya berkata, “Dadi menungso pasif iku pilihan, tapi aku luweh milih dadi wong aktif. Dan punk adalah pilihan”. Sampai saat ini aku masih gak mudeng dengan apa yang dia katakan. Lewat senyum tipis itu mungkin dia ingin mengatakan sesuatu yang paling dalam pada dunia. Tentang lirik bunga hitam yang senantiasa menjadi pemantik semangat.

Buka mata hati, buka telinga
Ciptakan semangat sampai akhir hayat
Hancurkan negri ini, ciptakan negri baru
Negeri ini butuh nurani.

   Di kalimat yang ini saya tiba-tiba menyadari, mengapa saya bercerita tentang serpihan kenangan itu. Padahal saya sangat tidak tahu menahu mengenai punk. Sudahlah, anggap saja hanya cerita. Di awal sebenarnya saya berniat akan mendongeng tentang White Shoes & The Couples Company. Tapi, ya sudahlah lain kali saja.