Urban Protest Against Fuel Price Hike

Planting seeds reversing the city walls

Combing Into Jogja

Spend the twilight alone

Carnaval Music Patrol XII Jember

Sabtu malam, sampai senin dini hari (28-29/07), Carnaval Music Patrol (CPM) merupakan sebentuk usaha untuk melestarikan kesenian tradisi yang mulai meredup eksistensinya karena tergeser oleh arus modernisasi. Kegiatan CMP XII ini, diselenggarakan kesekian kalinya, oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember (UKMK UJ).

Abrasi di Bibir Papuma

Jember (13/01) dini hari beberapa teman mencari nasi menyisir warung, mereka berjalan pelan-pelan lewat belakang warung.

Berdagang di Pasar Tradisional

Para pedagang di Pasar Tanjung Jember yang memulai aktivitasnya dini hari.

Selasa, 28 Januari 2014

Pagi di Gang Kecil


Saya memang enggan memakai kamar mandi umum. Sambil menunggu kamar mandi kontrakan kosong, teman saya bercerita mengenai anak kecil yang mencuri sepasang sandalnya beberapa hari yang lalu. Kami berdua duduk di kursi kayu. Bau masakan dari dalam rumah seorang warga silih berganti dengan bau gorong-gorong. Ada banyak rumah bertingkat yang membuat sinar matahari tak sampai ke bawah. Maka dari itu gang kecil tersebut cenderung lembab.
Kontrakan berlantai dua itu memang terisi lebih dari sepuluh kamar, akan tetapi hanya disediakan satu kamar mandi. Selain itu di depan kontrakan terdapat satu kamar mandi umum. Berjarak tiga rumah dari terdapat pula bangunan berderet berisi tiga kamar mandi umum.
Kami berada di dalam di gang kecil. Dari jalan beraspal berjarak sekitar seratus meter. Jalan masuknya berukuran sekitar satu setengah meter. Satu meter untuk lalu lalang warga sedangkan bagian yang lain merupakan gorong-gorong. Berjarak sekitar lima puluh meter mendekati kontrakan, jalan mengecil, sekitar setengah meter sepenuhnya dibangun di atas gorong-gorong. Untuk menyusuri gang kecil tersebut memang harus berdesakan. Ada warteg kecil yang dapurnya tepat di jalur masuk, warga yang kerap menghabiskan waktunya untuk bercengkrama, dan lalu lalang warga yang lain. Maka dari itu untuk berjalan hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. 
Jika hujan turun terlalu lama, air dari gorong-gorong akan meluap. Kalau memaksakan diri berjalan ke luar, air akan merendam kaki sampai lima sentimeter di atas mata kaki. Baunya mirip dengan tempat pembuangan sampah.
Seorang perempuan muda melintas di depan kami. Rambut panjangnya diikat sekenanya, kulitnya putih. Dia tak memakai apapun selain selembar handuk yang dibuntal ke separuh bagian tubuhnya, menutupi dada sampai setengah bagian pahanya. Tangan kirinya menenteng gayung yang berisi peralatan mandi. Sedangkan tangan kanannya memegang lipatan handuk tepat di bagian atas dadanya. Dia menuju kamar mandi umum yang berisikan tiga kamar.
Selang beberapa menit perempuan itu keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai. Warna kulitnya terlihat lebih putih dari sebelumnya. Ketika dia berpapasan dengan tiga laki-laki muda yang memakai baju muslim dan sarung, dua orang dari pemuda itu memegang bagian tubuh perempuan itu. Tepat di bagian yang dilapisi dengan handuk. “Eh, apa Lu pegang-pegang, bayar tauk!” sambil tersenyum perempuan itu berkata. Suaranya keras sekali namun dia sedang bercanda. Ketiga pemuda itu meresponnya dengan tertawa keras. Kemudian mereka bertiga berlalu menuju masjid di ujung gang.
Beberapa kali tikus besar yang sebagian tubuhnya bewarna putih karena bulunya rontok, para pedagang air, ibu-ibu yang membawa piring kotor untuk dicuci dikamar mandi, dan pedagang jajanan melintas di depan kami. Selain itu ada pula lebih dari lima orang pemuda yang melintas. Tiga dari mereka membawa ayam jago. Ketika sampai di ujung gang, mereka membentuk lingkaran. Tak pernah terpikirkan oleh saya jika di kota sebesar ini masih saja ada orang yang hobi mengadu ayam. Selang beberapa saat, seorang pria berbaju putih hijau, di punggungya bertuliskan Front Pembela Islam melintas di depan kami. Dia seperti hendak menunju masjid. Namun dia berhenti di ujung gang.[]

*) Tulisan ini merupakan tugas deskriptif yang diberikan oleh Andreas Harsono ketika saya mengikuti Kelas Jurnalisme XII Sastrawi Yayasan Pantau. 


Kamis, 23 Januari 2014

Nuklir, Perjalanan, dan Gang Kecil di Jakarta


Selepas kelas yang dimentori Janet Steele, saya diajak seorang teman untuk singgah di rumah Fawas. “Rumahnya tak jauh dari sini,” teman saya menjelaskan, “Kita bisa menginap di sana, dari rumah Fawas ke Kantor Pantau cuma satu kali naik angkutan.”  Tak lama setelah itu Fawas datang, kami bersalaman lalu menuju rumah Fawas dengan berboncengan tiga. “Deket kok, aman gak ada polisi,” Fawas mencoba meyakinkan kami. Sepanjang perjalanan saya melihat dua supir bajai meludah di dalam kendaraanya sendiri.
Di depan rumah Fawas terdapat meja kecil berbentuk lingkaran. Ada empat kursi yang di tata melingkar mengikuti setengah lengkungan sisi meja. Di tempat itu kami bertiga menghabiskan sisa sore. Akhir-akhir ini Fawas sedang sibuk merampungkan masa pendidikannya, sebagai mahasiswa pasca sarjana, jurusan teknik nuklir.
“Sudah baca buku Hirosima?” Saya merespon disiplin ilmu akademik yang Fawas tempuh.
“Belum.”
“Dalam buku itu diceritain kalo nuklir itu gak meledak, cuma ngeluarin kilat, emang gitu ya?”
“Oh kalo di dalam zona ledakan mah emang gak kedengeran ledakannya. Tapi kalau dari luar baru kedengeran.” Sembari menyeruput kopi, saya membayangkan sejenak, entah sudah berapa banyak orang yang percaya secara mutlak, jika nuklir tidak mengeluarkan suara dentuman dari John Hersey. Sambil meletakkan gelas kopi saya kembali bertanya, ”Kapan kira-kira Indonesia bakal punya nuklir?”
“Sudah lama siap. Indonesia punya banyak orang yang sanggup bikin nuklir. Tapi gak ada fasilitas dari negara.”
“Bukannya negara yang boleh punya nuklir itu yang dianggap tidak pernah menyalahi hukum HAM?”
“Gak lah, masalah undang-undang cuma lobi-lobi politik dengan PBB, cuma masalah siapa yang paling kuat saja.”
Beberapa jam setelahnya saya diantar Fawas ke halte busway. Saya hendak memenuhi janji dengan seorang teman jurnalis untuk menemaninya ke Petak Sembilan. Dia sedang membuat foto esai tentang kegiatan di Klenteng tertua Jakarta.
Di depan peron busway saya bertanya, “Mbak, ke Glodok lewat mana?”
“Sana,” singkat sekali dia menjawab sembari  menunjuk ke arah ruang tunggu.
“Mana mbak, kiri atau kanan?”
“Sudah sana!” raut mukanya menampakkan kemarahan.
Betapa tak ramahnya petugas busway trans jakarta. Kemudian saya terpaksa masuk ke ruang tunggu. Tempat duduk model berderet hanya ada di bagian ujung. Ada belasan orang yang sedang menunggu, namun kursi tersebut hanya diisi seorang perempuan. Di bagian kanan dan kiri ruang tunggu terdapat tiga pintu. Satu pintu khusus bagi penumpang wanita dan dua yang lain agar tak terlalu berdesakan masuk.
Seperti kebanyakan orang, saya memilih untuk menunggu sambil berdiri tepat di depan pintu. Ini cara termudah agar bisa cepat dan sigap masuk ke dalam bus way. Di depan saya terdapat jalur khusus busway. Namun lebih dari setengah jam saya menunggu, sudah ada 38 sepeda motor yang melintasinya dengan sangat cepat sekali.
Dari Halte Busway Glodok saya melihat di sebrang jalan teman saya sudah menunggu. Kemudian kami menuju Petak Sembilan. Gang menuju Klenteng Kim Tek le, Vihara Dharma Bhakti sebesar ukuran satu setengah lebar mobil. Di jalan masuk terdapat puluhan lampion kecil yang masing-masing menyala merah. Ujung kawat pengait lampion itu diikat di rumah warga. Cara orang-orang memperlakukan kesakralan imlek indah sekali.
Ketika mengarahkan pandangan kebawah, para pengunjung akan mendapati bagian tengah jalan yang berlubang-lubang. Malam ini seluruh  lubang terisi air berbau busuk. Keberadaan para pedangan berderet sepanjang bibir gang, menambah kuatnya aroma khas pasar. Sisa-sisa dagangan sayur dan sampah plastik berserakan. Di samping kanan mulut gang, terdapat seorang penjual sate yang barang dagangannya dikerubungi 5 kucing.
Ternyata klenteng sudah tutup. Pintu masuknya tak dibuka lebih dari jam sembilan malam. Di depan pintu masuk klenteng yang digembok, tiba-tiba hadir tujuh orang. Masing-masing dari mereka membawa alat musik. Ada gitar, gendang, kecrek, microphone, dan empat sound kecil. Hanya satu orang yang tak membawa alat musik, tangan kanannya memegang topi. Perempuan berkulit putih, make up tebal, dan alis palsu itu berkeliling sembari menyuguhkan topinya kepada warga di sekitarnya. Dia berharap orang-orang menaruh uang pada topi itu. Setelah selesai memainkan satu lagu dangdut, mereka berpindah tempat.
Kemudian saya berlari menyusul mereka. “Sudah dari mana aja nih?” Setelah mendapatkan ijin untuk memotret aktivitas mereka, saya bertanya pada perempuan tadi.
“Jauh, keliling dari Jembatan Lima.”
Setelah itu saya meloncat geli, ada seekor tikus berukuran besar tengah lari ke arah saya. []


*) Tulisan ini merupakan tugas yang diberikan oleh Janet Steele ketika saya mengikuti Kelas Jurnalisme XII Sastrawi Yayasan Pantau.

Senin, 23 Desember 2013

Pementasan Teater Hipnotika; Mengkritik Kuasa Media



Jika anda Islam,
Maka anda pasti tahu
bagaimana cara memberi sakralitas pada masjid
Jika anda Hindu,
Maka anda pasti tahu
bagaimana cara memberi sakralitas pada Pura
Jika anda pecinta teater,
Maka anda pasti tahu
bagaimana cara memberi sakralitas pada panggung
(Halim Bahriz)


Kutipan di atas merupakan prawacana yang dimunculkan dari olah vokal Halim Bahriz, Sutradara sekaligus pembuat naskah Pementasa Teater Bertema Hipnotika (23/12), oleh Teater Pendopo Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian, di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa, Universitas Jember sebelum pementasan berlangsung. Pementasan berdurasi lebih dari satu jam tersebut disajikan mini kata, akan tetapi kaya akan simbol yang mampu membangkitkan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Di awal pertunjukkan, ada gairah membosankan yang masuk kepada penonton, termasuk saya yang berasal atau ditularkan oleh atmosfer suasana panggung. Serasa sedang menonton kegiatan yang terus-menerus diulang hingga rutinitas itu sendiri kehilangan makna. Rutinitas kosong, tanpa esensi. Sebagaimana kutipan di atas, sang sutradara seolah sedang berkata, kita harus menciptakan banyak hal hanya agar kita sendiri menjadi budak bagi apa yang kita ciptakan.

Dengan sorotan sinar lampu bewarna kuning, seorang penari berbaju layaknya penari gandrung tanpa kipas dan dengan mahkota entah dari tarian apa, membaca koran di atas level untuk mengisi prolog. Sementara di sekitarnya seorang badut dan gadis kecil menata letak kursi. Selang beberapa saat penari tadi murka kemudian membakar koran sembari ekpresinya berubah menjadi sinis. Lima pemain menduduki masing-masing kursi. Mereka terbangun layaknya seseorang yang baru saja membuka mata setelah tidur panjang di tempat tidur. Lalu mereka bergegas mengintari pangung secara acak sambil mendorong kursi layaknya trolly, keranjang belanja atau wadah. 

Sepertinya mereka mencoba mengintegrasikan dirinya ke dalam rutinitas. Namun ketika masuk ke dalam rutinitas, ternyata masing-masing dari mereka dikawal oleh ilmu pengetahuan atau wacana. Dalam hal ini properti kursi yang dibalut dengan sobekan kertas koran bisa dipersepsikan sebagai referensi atau wacana ruang dari tiap aktor. Barangkali properti tersebut bisa mewakili dua hal, yaitu ruang dan basis habitus dari ruang itu sendiri, yaitu koran.


Kemudian hadir aktor lain di antara kelima aktor tadi. Dia berinfiltrasi ke dalam panggung dengan memakai baju kotak-kotak merah hitam. Seperti yang dituangkan seseorang dalam forum apresiasi pasca pementasan, itu mewakili atribut Jokowi. Seorang aktor tersebut lantas melempar koran ke penonton. Seperti sedang membagi potongan dari dirinya kepada publik setelah memanifestasikan diri di dalam koran tersebut.  Lalu satu-persatu dari kelima tokoh yang mewakili publik dicekoki koran tersebut.  

Ketika moment tersebut berlangsung, datang lagi si badut yang mewakili sebuah candaan atau lelucon dengan seorang gadis kekanak-kanakan yang bisa dikatakan menaburkan aura permainan, lugu, dan mengasyikkan. Injeksi besar-besaran sedang dilakukan untuk merangsek masuk bukan hanya pada kuliat luar yaitu ruang publik. Namun lebih dari itu, dia masuk pada ruang privat. Dalam artian turut mengonsep bagaimana seharusnya kelima tokoh yang mewakili publik, bertingkah laku dalam kehidupan.

Lima aktor tersebut dipersepsikan oleh sutradara sebagai perwakilan dari beberapa elemen masyarakat. Ada akademisi, pekerja kantoran, pemuda, dan dokter. Masing-masing aktor juga mewakili respon terhadap lima media cetak harian yaitu Surya, Memo, Kompas, Sindo, dan Jawa Pos. Secara sederhana bisa dilihat dari properti yang dipakai, lima media cetak dari perusahaan pers umum.

 Anehnya cara membaca dan cara merespon kelima aktor tersebut sama. Entah itu cara memahami atau mendalami dan cara bereskpresi terhadap realitas dalam koran. Saya jadi curiga jika media kekinian meskipun berlainan nama, namun secara konten satu dengan lainnya tak jauh beda. Peristiwa yang mereka kabarkan sama, namun cara mengemas informasi dan cara mendeskripsikan isu bisa jadi berbeda. 

Sempat kelima tokoh tersebut secara berulang kali meremas dan membuang koran. Akan tetapi mereka lalu mengambi dan membaca koran itu kembali. Seperti ada rutinitas mutlak yang tak mampu mereka hindari yang telah dirasuki oleh bujukan untuk mengkonsumsi kembali. Jika tidak melakukan hal itu, mereka akan sakhaw. Kelimbungan atau bingung dengan sendirinya. Hingga titik jenuh menyisir klimaks, kelima tokoh mencoba menghindari koran yang telah dia buang. Belum selesai mengatur strategi persembunyian, ternyata mereka kepergok oleh koran itu sendiri.

Ada satu fragmen  yang barangkali berada pada titik puncak dari alur pertunjukkan. Di saat seorang penari menghamburkan nuansa erotis dalam gerak dan gestur tubuh. Datanglah seorang aktor laki-laki yang memakai bajuk kotak-kotak sebagai simbolisasi kekuatan partai politik. Laki laki tersebut masuk ke dalam rok penari wanita. Setelah itu mereka berdua menari bersama dengan gerakan yang selaras.

Saya pernah menjumpai tarian tersebut dalam film Opera Jawa. Sebagian kecil yang saya ingat dalam film tersebut divisualisasikan simbol dari perselingkuhan. Bisa jadi pencomotan adegan dalam film tersebut oleh sutradara mempunyai maksud serupa. Namun maksud dalam film mencoba dikontekskan dalam alur dan ide naskah teater Hipnotika. Dalam hal ini perselingkukan bukan lagi antara selir kerajaan dengan para prajurit, akan tetapi antara kuasa perusahaan pers yang mengatur alur hidup kebudayaan masyarakat dengan kepentingan partai politik.

Pernah suatu hari saya iseng bertanya kepada seorang tukang becak di daerah Jember. “Siapa presiden Indonesia?” sederhana sekali pertanyaan saya. Kemudian tukang becak tersebut menjawab dengan enteng, “Jokowi.” Saya kemudian terbahak. Si tukang becak pun menunjukkan kepada saya mimik muka kebingungannya. Dalam hal ini sangat mungkin jika media telah berulangkali bertindak untuk melakukan sentralisasi kota manapun bagian dari Indonesia ke Jakarta. Informasi mengenai Jakarta atau khususnya Jokowi secara masif dilempar untuk menerjang pola pikir publik. Sesak sekali, ruang publik banjir sampah.

Hipnotika mencoba mengupas dan menyajikan kepada para penonton, bagaimana pola kerja internal perusahaan pers umum membentuk kuasa. Di dalam pola kerja tersebut terkonstruksi bagaimana cara mengatur publik. Dalam artian perusahaan menskenariokan bagaimana caranya agar konsumen bahagia, menangis, marah, cemas, ketakutan, dan sebagainya. Meskipun pada realitasnya si konsumen itu sendiri tidak menyadarinya. Atau bahkan menyadarinya sebagai ekpresi natural yang lahir dari kehendak dirinya sendiri. Padahal jika ditelaah lebih dalam, respon yang muncul dari kelima aktor terhadap apa yang dia baca, sebenarnya telah digerakkan dari luar dirinya. 

Maka dari itu sutradara mengklaim realitas kekinian yang ia rangkum dalam sakralitas pertunjukkan teater tersebut, sebagai era perobotan individu atau konsumen. Publik telah dihipnotis, manusia telah melakukan banyak hal tanpa disadari. Masyarakat telah dikotrol dan digerakkan oleh kuasa perusahaan pers umum. 

Sederhananya saja, eksternalisasi dari individu itu sendiri akan secara tidak langsung menjadikan individu tersebut sebagai objek. Misalnya saja contoh alat kerja pacul yang diciptakan untuk para petani. Peng-ada-an pacul berdasarkan daya cipta dari manusia. Akhirnya para petani menggunakan pacul tersebut untuk bekerja di ladang. Lama kelamaan, apa yang bisa petani lakukan di ladang tanpa bantuan pacul? Ada banyak kemungkinan, barangkali petani tersebut akan segera membeli, meminjam, atau bahkan memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Hal tersebut juga akan terjadi pada pembuat pacul itu sendiri jika dia bertindak menjadi petani. 

Ada hal yang merisaukan dari ekternalisasi ini. Bagaimana cara pembuat pacul membatasi atau mencegah perbuatan-perbuatan yang akan muncul dari paculnya. Misalnya saja yang paling mengerikan yaitu, ketika pacul dipakai oleh petani untuk membunuh. Bukankah hal tersebut bisa dan sudah seringkali terjadi. Pada akhirnya kita harus sama-sama memahami jika pada akhirnya setiap manusia akan takluk atau tak berdaya terhadap apa yang ia ciptakan sendiri.

Sama halnya dengan perusahaan pers. Mereka ada atas dasar kemungkinan mutlak bahwa publik berhak untuk tahu. Memperoleh dan menyampaikan gagasan adalah hak asasi dari masing-masing individu. Maka dari itu konsekuensi dari meng-ada-nya pers umum ialah, menjadikan publik sebagai sasaran utama bagi loyalitasnya. Namun jika orientasi perusahaan pers sudah melampaui fungsi dasar yang menyangkut mengapa dia harus ada. Misalnya saja lebih dekat kepada tokoh politik, kelompok, pemilik perusahaan besar pertambangan yang mengeksploitasi negeri ini, dan sebagainya. Publik jangan diam saja, selain pengawalan, mereka harus melakukan tindakan. Jangan jadi konsumen pasi, jadilah elemen publik yang kritis.[Dieqy Hasbi Widhana]

Senin, 04 November 2013

Lack of Local Government Concern with dunes, Jember Youth Held Save Gumuk

Dune is a mound -like hill, but the volume is smaller than a mountain . Jember first earned the nickname as the 'City of a thousand dunes'. But gradually it lost thousands dunes one by one. The environmental damage turned out to attract the sympathy of the community, the organization, and the band to join in the evening activities donation 'Save Dunes'.

Save dunes is a collective concern tangle of various communities in Jember. Activities led by the Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Jember city or Pers Mahasiswa (Persma) Jember took place on Saturday night (28/9) in Gumuk Gunung Batu, Jember, East Java. Then they work with the Sekolah Bermain, Cangkrukan Lewat Botol Kosong, and Young Gun Veins to develop the concept of save dunes. After that slowly other communities began to arrive to help event titled is 'A Thousand Dollar For Gumuk'.

According Nurmaida, Chairman of Supervisory Save dunes, "This event is simple. We do not think heroics to buy dune. But this event is our first step to unite among organitation, Lembaga Pers Mahasiswa, a community of Jember, and all walks of life together to preserve the dunes together," he explained. He also added Hopefully after this event, many students from diverse faculties and universities that conduct research on the dunes.

In his speech, Nurul Priyantari, S.Si, M.Si, Assistant Dean of the Faculty of Mathematics, University of Jember, really appreciate this kind of activity, "In the midst of an increasingly widespread news about juvenile delinquency, here we can be very entertained with concern you against nature. As the younger generation would have to have a concern for nature. I really appreciate all these events," he said. Nurul also added his hope that such an event is followed up with another activity that is more serious.

Gumuk Gunung Batu is one of the dunes in Jember poor condition. The dunes have lived half, while the others have been exploited. In the normal save dune, half broken landscapes are taken as the stage background. Additionally dunes decorated with lots of torches and the visitors who come are required by the route provided by the committee, which passed dunes prior to the location of activities.

Some indie band Jember who attended and participated filling the dunes save disclose their complaints regarding the condition of the natural environment. "We know the conditions in Jember dunes such as one that is behind us now. The event is at least made ​​us aware that there is a very critical thing," said Dion, Black Dog Vocalist. It is also revealed by Alex Gunawan, Vocalist The Penkors, "It is a great role for the dunes, and it makes perfect sense if we have to keep the existence of dunes that amount is not on the wane. Still maintain the remaining dunes. Hopefully many more who love dunes remaining," he said.

Save this event contains dunes Band Acoustic Performance, Poetry Readings, Dance Kedok Putih, Cangkruk'an, Collecting Coins For Gumuk, Empty Bottle Collection, Signature Solidarity Actions Save dunes, and Live Art Performing. Band Acoustic Performance by the band filled indie Jember some of them, namely, The Penkors, Black Dog, From This Accident, Pispot, Gudang Productions, and amusement.

While reading two poems by young poets and Jember ie Bahriz Halim Abdul Gani, be a reflection momentum. Therefore intends to encourage the reading of poetry visitors about the human desire to contemplate the damage natural ecosystems. "Fate must be formulated, where we were born and found myself as a human being," a piece of poetry that was read by Abdul Ghani. White mask dance then presented by the Student Activity Unit Kurusetra Arts, Faculty of Economics, University of Jember.

Performing a live art performances Jember street art activists in the location. With capitalize spray paint, the young artist is showing her skills in paint incised on the vinyl . Among Fiky Old Skull Hart Kore (OSHK), Dullboy OHSK, Asgar Fucking My Name (FMN), Mubin Tuban Rest, Nizar Everything of Art (EVA), Network of local artists Jember street art and drawing is joined together on-site activities.

In addition there is a series of events for the coin collection that became the core of the show dunes save dune. Piooner collecting donations to buy this dune has been around a long time by some nature lovers in Jember. They wanted to change the status of dunes as private property belong together. Therefore we intend to support the plan of buying dunes by collecting donations. [Dieqy Hasbi Widhana]

Stop Exploitation Dunes, Save Jember Future

Natural ecosystems including humans in it should move in a balanced manner . In Jember, exploitation dunes began to appear in 1990 . One of the content of the stone plate dunes, considered to have a high economic value if unloaded . Most of the dunes in Jember destroyed for the sake of a few people economically. Though natural dune formation is a phenomenon that is unique and one of a bona fide function as a buffer against natural disasters.

"We used to hear that the city of Jember thousand dunes. So the name is a nickname that's an identity. And that's true identity we want to take back. It used to be said there are a thousand more, now it is only six hundreds, including one that is behind us that conditions are exploitative. Looks like it is almost flat," said Cak Oyong, Founder of Sekolah Bermain .

For Cak Oyong, restore dunes that have been lost is impossible. "But there's still hope we can reduce exploitation actions of those who are rich," her said. Indeed, most of the dunes in Jember an individual property. Likely to prevent the emergence of exploitation dunes can still be done in various ways. Whether it's through persuasion by way of transmitting the discourse surrounding the dunes or the other function.

Ir. Wahyu Giri suspected cause of a destructive tornado Jember City a few months ago. "Case tornado in Jember city that's so weird, a few years ago there was something like that. Since 85 years I never was a story that never existed in Jember City tornado," he said. Previously there was no record in history that ever hit Jember tornado. Allegedly this kind of natural phenomenon arises because more and more dunes were destroyed. Of course along with the destruction of the function as a barrier dunes and wind breaker would go extinct as well.

According to Giri, in 2005, there has been discussion that led to a serious discussion about the dunes. At that time the discussion didapatan conclusion , that not all dunes in Jember to be rescued. However it must be sorted dune which one had to be rescued and dunes which can be converted into land to meet human needs. But there is no real continuity after the discussion was over.

Indeed if viewed Spatial Plan (Spatial) Jember is now being discussed, there was no dunes are a unique geological landscapes that should be saved . But being threatened everything for mine, exploitation. "Hopefully dune landscape geology to be included in the spatial plan," said Giri .

Additionally Giri also expressed hope in the future if successfully protected by dunes buy first. "If you bought dunes, his dream is waqf, sorry for the other religions, but I just termed it is a loss of waqaf property. I'm sure only friends who have not lost the right reward donations. Later ( dunes are bought ) for anything, do not be left unharmed only result is tolerable. But it could be a vehicle for education dunes, it could be to save or collect rare plants , all kinds lah , that dream can be built together," he explained. Until the date of July 26, 2013, funds collected by Wahyu Giri and nature lovers in Jember concerned with dune collected Rupiah 5,135,70.

On the other hand after 2005, source dunes surrounding literacy in Jember not develop. Like what was said by Lozz Akbar, Jember blogger, "If we type the JFC in google, it will find a lot of information. But if we type the dunes, will we get very little information about the dunes. At least we will meet in Parangtritis reference sand banks or maybe writing long nature lover friends. Yet if we think, before Jember Fashion Carnaval was echoed in the world, we actually already have a characteristic that is second to none in the world," he said.

As no reference about the development of dunes, it turns knowledge level of the dune Jember residents remains very low. "Yesterday, about a week ago, I put the logo of the save dune. Then a lot of people are asking, what is the dunes? Jember these people themselves are still many who do not know about the dunes," said Akbar.

Akbar also regretted mining rocks contained by dunes. He also hoped that this kind of activity provides awareness to the public about the importance of the function of dunes. "But unfortunately, dredged dunes slowly because a person of interest. Hopefully this event wrote awaken our memories with each other that can not be controlled dune individually, but together create," said Akbar.

Regarding the activities of Rohim Zabriansyah Hakim Judge, environmentalist, singer Sightseeing expressed his pride towards the implementation of the Student Press Jember save dune by cooperating with its network of collective work. "To save the event dune driving motor Persma comrades as Jember. Persma also not turn a blind eye, they also invite other communities. Salute for Persma comrades as Jember can invite all the community, including proactive invites fellow lover of nature , art , and punk comrades," he said.

The event was attended by hundreds of visitors aims to build public awareness of the importance of maintaining and caring for dunes in Jember. Indeed dunes in Jember mostly owned by individuals. But when the bear destroyed not only the impact but Indonesian Jember. Because dunes that had been protecting us from the presence of a natural disaster. [ Dieqy Hasbi Widhana]

Kamis, 29 Agustus 2013

The Stilts Festival IV Tanoker in Jember Indonesia

Unique Costume Festival participants stilts IV Ledokombo, Jember, East Java, on Saturday (24/08/2013). This year the race jury hiking and dancing on stilts imported from foreign countries, namely Max Boon (Netherlands), Amadou Diawara (Senegal), Gill Westaway (Australia). Participants dance on stilts and demonstrate proficiency attractions. Things to do in front of the jury was to the accompaniment of music. Regent of Jember, MZA Djalal opened the event. With this event in addition to the traditional culture of the game that will be stronger kearagaman expected to strengthen the tribes and cultures of Indonesia.






Pementasan Naskah Carung Colitik Oleh Dewan Kesenian Kampus

Pementasan Naskah Carung Colitik Oleh Dewan Kesenian Kampus

Pementasan Naskah Njingan olehTeater Tiang

Pementasan Naskah Njingan olehTeater Tiang