Urban Protest Against Fuel Price Hike

Planting seeds reversing the city walls

Combing Into Jogja

Spend the twilight alone

Carnaval Music Patrol XII Jember

Sabtu malam, sampai senin dini hari (28-29/07), Carnaval Music Patrol (CPM) merupakan sebentuk usaha untuk melestarikan kesenian tradisi yang mulai meredup eksistensinya karena tergeser oleh arus modernisasi. Kegiatan CMP XII ini, diselenggarakan kesekian kalinya, oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember (UKMK UJ).

Abrasi di Bibir Papuma

Jember (13/01) dini hari beberapa teman mencari nasi menyisir warung, mereka berjalan pelan-pelan lewat belakang warung.

Berdagang di Pasar Tradisional

Para pedagang di Pasar Tanjung Jember yang memulai aktivitasnya dini hari.

Senin, 16 Juli 2012

Babebozine; Iklan itu Sadis! (Catatan Epigraf)

Jika karya adalah clue perabotan dalam dunia imajinasi. Maka iklan adalah koloni rayap yang siap menghancurkan perabotan itu dari dalam. Dia adalah seperangkat kesadisan yang selalu datang bersama senyap. Perlahan merebut diri kita. Merebut pemikiran kita. Hingga dialah kebenaran absolut yang mengendalikan pikiran kita.

Ketika melihat segala macam bentuk iklan. Berbagai jenis manusia seketika berubah. Perubahan terjadi karena iklan selalu mengagung-agungkan agar kita tertunduk pada hasrat. Budak hasrat. Kita?

Di Jember, sebuah koran lokal dengan inisial ‘Radar Jember’ mempunyai salah satu rubrik untuk publik. Bisa kita artikan sebagai ruang bagi publik untuk menyuarakan ekpresinya. Akan tetapi tetap saja ada berbagai macam bentuk atibut kepentingan di sana. Misalnya saja dalam rubrik Seni dan Budaya, karya sastra para kontributor harus bertanding dengan space iklan.

Terlebih jangankan memberikan bayaran yang sesuai dengan hasil kerja para kontributornya, menyapa para kontributor dalam email saja tak pernah. Sungguh redaktur yang malas sekali atau mungkin malah antisosial. Memanfaatkan hasil kerja orang lain demi kontinyuitas oplah cetaknya setiap hari.

Di sisi lain yang lebih menakutkan dari koran lokal. Koran itu tidak akan berani memuat berita yang berlawanan atau tidak sepaham dengan penyumbang iklan dalam medianya. Bukankah publik berhak tau atas segala informasi yang menyangkut publik an sich. Lantas mengapa penyumbang iklan menjadi lembaga sensor ketiga setelah pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan. Aih, pemimpin redaksi memang bukan raja dalam sebuah perusahaan media, karena masih ada tuhan dalam wujud pasar modal.

Ya, yang awal dari seni adalah hasil perkawinan antara realitas dan imajinasi. Maka dari itu Babebo edisi #3 kali ini mencoba merangkum realitas kemudian menungkan dalam gambar dan kata. Karena segala yang bernama kebenaran hanya bersifat sementara. Maka kami menodong bantuan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca imajinasi sekalian.

Terima kasih kepada Chandra Mind Zine, Saiful Bachri, juga pare pegiat zine yang telah membantu persalinan Babebo Zine #3 ini.

Viva Imadjinasi...!!


Untuk Selesai, Butuh Uang

Pagi itu seperti biasa, saya berangkat dari rumah jam setengah tujuh pagi. Kemudian nongkrong di samping jalan pantura sembari menunggu angkot. Bisanya saya tak sendiri. Teman-teman sekampung sering berangkat bareng-bareng dalam satu angkutan umum.

Saya dikenal sebagai murid yang selalu terlambat. Ketika datang terlambat, beberapa anak yang telat selalu di kumpulkan oleh satpam di gerbang masuk sekolah. Pernah suatu kali saya datang terlambat. Kemudian si satpam menyodorkan buku absensi khusus siswa yang terlambat. Di buku absensi itu terdapat kolom nama, kelas, dan lebih dari lima kotak sebagai tempat tanda tangan.

Karena sudah terlalu sering melakukan ritual semacam itu. Saya jadi terbiasa dengan aturan tanda tangan di buku besar itu. Tentusaja nama saya dan beberapa tanda tangan sudah tercantum di sana. Kemudian pagi itu saya mencari nama saya. Nah, ketemu! Lalu tinggal mencari kolom yang kosong untuk tanda tangan. Dan ternyata sial sekali, gak ada kolom kosong yang siap saya bubuhi tanda tangan. Otomatis saya tanda tanggan di luar kolom.

Hari berikutnya dan seterusnya saya masih datang terlambat ke sekolah. Sampai lebih dari lima tanda tangan saya berada di luar kolom. Pada akhirnya ketika proses belajar mengajar, saya dan beberapa teman dipanggil ke kantor. Entahlah saya tak begitu ingat tentang apa yang dikatakan oleh guru bimbingan konseling waktu itu. Namun yang jelas waktu itu diakhir ceramah yang sangat riuh, masing-masing dari kami diberi surat. Nah, surat tersebut berisi panggilan agar orang tua kami datang ke sekolah.

Setelah kami mendapat surat berukuran besar, bewarna putih, tersegel rapat, dan tertuliskan ‘Kepada Yth. Wali Murid …,” kami tak langsung masuk ke dalam kelas. Sambil bergerombol, di depan kantin kami saling mengungkapkan kegelisahan. Seorang teman perempuan berkali-kali mengusap air mata. Wuh, cantik sekali dia di kala itu. Dengan kulitnya yang putih, rok pendek bewarna biru tua, rambutnya pendek, dan tahi lalat di hidungnya. Dengan muka yang semakin memerah dia bertanya pada kami, apa yang akan kami lakukan dengan surat ini.

Sedangkan beberapa teman saya yang laki-laki, mereka hanya diam sambil menatap jauh ke depan, sebagian lainnya menerawang ke langit-langit kantin. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Yang jelas, mereka sedang menyesal berat. Sedangkan saya sibuk mengamati ekpresi mereka. Memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan. Jika mereka gusar saya sedikit berlagak sombong dengan meremehkan permasalahan. Cukup sederhana saya hanya bilang ke mereka kalau surat ini takkan berarti apa-apa bagi saya. Ya, hanya surat. Tinggal menyampaikan kepada orang tua. Kalau orang tua memarahi, cukup pamitan keluar untuk main atau pasang headset kemudian tidur.

Sebenarnya apa yang saya katakan pada mereka tak sepenuhnya akan terjadi. Paling tidak tujuan utama saya adalah dengan meremehkan permasalahan, mereka akan merasa tenang. Selain itu mungkin mereka akan menganggap kalau ini hanya sekedar permasalahan kecil semata. Ya, alhasil mereka sedikit tenang. Kemudian ketenangan yang sementara itu, menumbuhkan berbagai ide baru. Seorang teman saya bilang kalau dia akan membayar tukang becak untuk menghadiri guru bimbingan konseling besok. Sedangkan salah satu teman yang lainnya hampir serupa, dia akan menyuruh temannya yang tua dan bekerja di bengkel untuk ke kantor dan menukar jasanya dengan sebungkus rokok. Wuiihh, ide yang bagus.

Mungkin saat itu adalah pertamakalinya saya memahami jika pelaksanaan sebuah ide itu selalu butuh uang. Dasar generasi instan. Bagi kami waktu itu, masa kecil adalah kehidupan yang tak pernah terlepas dari dominasi uang. Bayangkan untuk bersenang-senang dan tertawa bersama saja kami butuh uang. Misalnya beli Topi Miring atau main PS. Ya, kita akan tertawa bersama. Selain itu ikatan emosional kami lebih gampang untuk rekat antara satu dengan lainnya. Ya, karena keberadaan uang maka kami adalah kelompok yang kompak. Kemana-mana selalu bersama.

Contoh paling sederhana saja misalnya, anak sejaman saya harus merangkai ikatan emosional dengan modal uang. Biasanya kami kalau ingin akrab atau sekedar basa-basi semata, cukup keluarin rokok kemudian satu batang untuk bersama. Haha, iya joinan. Maka dari itu setiap berangkat sekolah saya tak pernah lupa beli rokok eceran. Biasanya ritual merokok bersama itu di toilet sekolah. Mungkin karena tak selamanya menjadi zona yang aman. Maka dari itu semenjak banyak grebekan, kami lebih sering merokok di kantin sekolah. Tentu saja dengan terlebih dahulu kong-kalikong dengan pemilik kantin. Lalu di ruang tersembunyi dalam kantin biasanya kami saling bercerita dan selalua ada tawa.

Memang tak perlu banyak uang. Tapi pastinya selalu harus ada uang yang mengalir dari salah satu dari kami. Beberapa teman memang mempunyai hobi meminta. Biasanya satu snack bisa dimakan berlima, satu plastik es bisa disedot bertujuh, satu gorengan dibelah jadi empat, dan sebagainya. Terkadang saya juga meminta juga. Dan terkadang mereka juga meminta pada saya.

Terlepas dari itu semua, waktu itu sayapun masih tak paham. Sebenernya mengapa kami butuh uang untuk sekedar berinteraksi. Atau sekedar merekatkan jaringan. Mungkin karena keterbatasan wacana atau kemalasan untuk sekedar melamun dan mengoreksi habis-habisan. Sampai saat inipun saya tak sepenuhnya memahami, mengapa kami butuh uang?

*Tulisan perang "GJ" dengan Si Sadam

Melipat Amarah

Apa yang anda lakukan ketika terlalu banyak orang-orang yang terlalu sulit untuk sepaham dengan anda. Seolah mereka mendominasi pemikiran publik dan berhasil merumuskan mana yang bisa dimaknai sebagai kebenaran. Kalau saya, tentu saja akan lebih memilih untuk berlari. Berlari untuk memberi jarak sejenak.

Memang tempat pelarian tidak selalu harus jauh. Tapi setidaknya saya akan berlari. Chairil juga pernah blang, jika ada peluru yang menembus tubuhnya, dia akan segera membawa tubuh beserta peluru itu untuk berlari. Mungkin dengan berlari maka segala rasa akan dilalui dengan penuh ketidaksadaran. Maka sakitpun tak akan terasa.

Begitulah, saya serigkali mencoba untuk berjarak dengan apapun. Ya, termasuk realitas. Bagaimana tidak, jarak realitas sendiri tak sejauh jarak Jember ke Surabaya. Hanya jarak antara dunia nyata dengan alam imajinasi. Atau jarak dirimu sekarang dengan dunia cyber. Bah, bukankah kedua dunia itu bisa dilalui dengan bersamaan.Dekat sekali. Bahkan lebih rapat dari nada bicara yang keluar dari mulut dengan udara.

Akan tetapi upaya untuk berjarak dengan realitas hanyalah sebuah lintasan kecil untuk menetralisir hegemoni. Tak lebih dari itu. Mungkin di sanalah letak kelahiran sebuah pemikiran independent tanpa campur tangan orang itu sendiri. Ya, walaupun segala wacana yang dilibatkan dalam pikiran kita tidak akan terlepas dari orang lain. Setidaknya kita dapat memetakan permasalan terlebih dahulu. Kemudian memploting siapa musuh dan siapa kawan.

Saya yakin perlakuan saya terhadap masalah akan mempermudah penyelesaian permasalahan itu sendiri. Plato juga pernah menemukan permasalahan pelik dalam memahami realitas. Ketika dia memandang sebuah benda misalnya botol bir. Maka yang pertama dia lakukan adalah kontak fisik dengan mata. Kemudian mata itu sendiri tidak secara independent mampu memaknai benda itu. Akan tetapi celah kekurangan yang dimiliki oleh mata kemudian ditambal oleh pikiran. Lalu pikiranlah yang akan bekerja keras untuk memaknai realitas. Namun tetap saja pikiran an sich tidak akan mampu memaknai realitas. Bahkan tanpa pandangan mata pada benda itu sebelumnya maka kita tak akan mampu mengenal benda itu. Bahkan menganggap sebagai benda yang nireksistensial.

Jika contoh tersebut dihubungkan dengan sangat terpaksa dengan Mahatma Gandhi yang pernah berkata, jika kau membalas tatapan mata dengan tatapan mata maka dunia akan buta. Mungkin sama halnya ketika kita berusaha membalas perlakukan dengan perlakuan yang serupa maka dunia akan hancur. Atau bila kita membalas amarah dengan amarah maka akan muncul kerugian antara kedua belah pihak.

Okelah, saya tetap berdiri satu kaki pada sebuah sikap saya sendiri yang memperlakukan amarah sebagaimana kawan lama yang harus kita sambut dengan sangat riang. Saya akan menyerap amarah yang kata orang kebanyakan terselip dalam simbol api atau merah. Karena bagi salah satu Filsuf pra Socrates, api adalah udara dan udara adalah air. Oleh karena itu anggap saja api terkanstruk dari substansi material utama berupa air yang dingin. Dingin sekali. Dingin.

*) Tulisan ini adalah provokasi untuk meledakkan perang "GJ" dengan kalian yg saya tag

Sepasang Sepatu yang Berjalan di Tempat

Jika waktu adalah lembaran kertas yang kosong. Maka setiap kedipan adalah sebuah coretan kecil. Pagi itu saya berjalan-jalan. Tapi tak menggunakan sepasang kaki. Yang saya butuhkan hanyalah mata dan kedua tangan. Karena perjalanan panjang yang saya tempuh adalah ringkasan dari dunia. Meski tak seluruhnya dari dunia bisa diringkas.

Orang-orang menyebutnya sebagai dunia maya. Sebuah lipatan dari realitas yang ditampilkan dalam layar kaca. Memang kita tak akan membutuhkan sepasang kaki jika ingin berlarian kecil di dalamnya. Biasanya saya hanya butuh seperangkat perlengkapan pinjaman.

Jika browsing adalah sebuah perjalanan. Pastilah demi sebuah kenyamanan dan keamanan saya punya versi sendiri. Laptop sebagai sepatunya. Catatan kecil tentang situs-situs favorit disulap jadi kompas. Selain itu harus membangun istana kecil di dekat Basecamp. Tak perlu susah payah membagun istana yang megah. Sederhana saja ambil bantal dan jadilah pemukiman kecil yang nyaman.

Tapi, pagi itu bukan saya yang sedang melakukan perjalanan. Akan tetapi kedua teman saya. Mereka adalah perempuan dengan gelar gaya hidup yang sok tinggi. Alangkah sialnya warisan waktu yang diberikan pada mereka. Karena yang mereka lakukan hanyalah menyakiti waktu dengan cara bersenang-senang. Tentu saja bukan bersenang-senang seperti apa yang selama ini ada dibenak kita.

Bagi mereka kesenangan terjadi di saat mereka menjelajahi dunia maya hanya untuk memilih sepatu. Aih, memang ketika pertamakali saya mengetahui kalau ternyata ada perempuan yang sejenis itu, rasanya seperti tertampar petir. Betapa mengherankannya mereka. Perempuan seperti mereka itu bisa saja terdefinisikan sebagai perempuan pemalas.

Sebenarnya sebagian dari kita telah tergolong sebagai kaum mereka. Entah disadari atau tidak. Kita telah terjebak pada segala hal yang cenderung terlipat. Atau sederhananya bisa kita sebut tingkah laku instan.

Bukankah lebih menyenangkan kalau kita berkeliling dari toko-ke-toko untuk mencari sepatu. Kita bisa berinteraksi langsung dengan penjualnya. Bukan hanya masalah tawar menawar harga. Budaya saling sapa pastilah hadir di sana. Sekedar berkenalan atau saling tanya kabar.

Akan tetapi coba lihat apa yang gemar teman saya lakukan. Tanpa sadar, dia telah terjebak dalam siklus sebuah pasar maya yang hadir dengan modal yang besar. Pasar itu memperlebar arena publiknya sampai ke ruang sosial di dunia maya sekalipun. Yang mereka tawarkan sebuah barang yang bisa dibeli dengan cara yang mudah. Selain itu, dengan menampilkan beraneka ragam jenis model sepatu. Para konsumer menjadi mempunyai keinginan lebih besar untuk tidak membeli satu sepatu saja.

Tak hanya itu tingkah pasar dengan modal yang besar. Diam-diam mereka mempengaruhi pemikiran para konsumen. Upaya yang mereka lakukan, memainkan hasrat para konsumen. Pertama-tama masyarakat dipecah menjadi berbagai kelas. Kelas rendahan, kampungan, ndeso, elit, dan gaul. Kemudian ditiupkan arwah pada setiap komoditas yang mereka produksi. Arwah itu mengandung status kelas sosial.

Maka muncullah berbagai macam bentuk roh yang sering didengungkan dalam iklan. Misalnya saja dengan memakai sepatu Adidas kamu bakal gaul. Jika ingin dipandang sebagai manusia dengan kelas sosial kaya dan elit maka pakailah Nike.

Kembali lagi pada kedua teman perempuan saya. Mereka berdua tak sadar jika dirinya hanyalah mengkonsumsi roh dari sebuah komoditas. Kesenangan membeli terletak pada cita rasa ilusi dan fantasi yang didembor-gemborkan oleh iklan. Namun bukan pada subtansi material atau nilai guna benda yang mereka beli.

Pantaslah jadinya kalau kedua teman saya itu ketagihan membeli sebuah ilusi. Mungkin karena terdapat kejayaan tertentu ketika status sosialnya terangkat. Harapan yang dia impikan adalah menjadi setara dengan kelas sosial yang biasa mengkonsumsi komoditas tersebut. Misalnya anak pegawai bank, anak pejabat, dan sebagainya.

Padahal jika kita mencoba membaca pesan yang dianut dalam sebuah foto. Tentu saja foto yang frame-nya mempunyai point of interest pada sepasang sepatu. Barangkali kita akan memahami jika foto tersebut sedang bercerita. Atau lebih sederhananya pemilik foto itu sedang berkomunikasi dengan kita lewat sebuah benda.

Sebagian orang ketika memaksa dirinya untuk memaknai foto itu. Barangkali dia akan menjawab, si pemilik foto sedang bercerita tentang proses hidup. Sepatu dimaknai sebagai kita yang sedang bernafas. Satu jejak yang sepatu jalani bagaikan satu hembusan nafas yang kita lalui. Bahkan lewat sepatu, kita bisa mencari tau dari mana si pemiliknya pergi.

Lantas apa hubungannya antara kedua teman saya dan sepasang sepatu gaulnya dengan pesan yang dikandung foto tadi?

Keduanya tidak sama-sama berjalan dalam waktu. Teman saya menjadi sepasang sepatu yang berjalan di tempat. Sedangkan waktu, yang berlari melampaui dirinya. Entahlah apakah sang sepatu tau jika pemiliknya hidup dalam keadaan yang setengah sadar. Kalau dia tau, mungkin dia tak pernah sempat mengingatkan.[]

*Tulisan untuk memprovokasi perang 'GJ' (tema: sepatu)

Rabu, 28 Maret 2012

Zaman Batu Dalam Kelas

Pernah suatu kali, di dalam kelas, dosen saya bercerita tentang konten salah satu rubrik di kompas. Dengan sangat ekspresif dia bercerita. Cerita yang menurut saya sedikit menguras waktu karena tak ada hubungannya dengan mata kuliah yang harusnya dia ajarkan. Perlahan saya mulai bosan, dia kira saya gak bisa membaca apa kok pake diceritain segala.

Di sebelah kanan saya ada deretan jendela-jendela berukuran besar. Sambil mengarahkan pandangan ke kanan dan melihat mahasiswa lain yang sedang lalu-lalang, saya masih bisa mendengar ocehan dosen itu.

Tetap memandang jauh ke luar jendela, saya memikirkan apa yang sedang dosen itu ceritakan. Intinya dia sedang bercerita tentang suatu daerah terpencil di pulau Papua. Ya, cerita yang sebetulnya bisa disampaikan dengan sederhana, akan tetapi sang dosen lebih senang menyampaikan cerita dengan cara berbelit. Mungkin dengan berbelit, segala hal terkait kekuarangan informasi yang dia dapat sebelumnya, akan sangat mudah ditutupi. Seolah dia tau segalanya. Uh, sayang sekali Bu. Anda gagal menceritakan nama daerahnya, bukannya Papua tak lebih kecil dari koran yang anda baca? Terlebih nama sukunya?

Begini, yang saya tangkap dari cerita sang dosen. Ada suatu daerah yang masih mirip dengan Zaman Batu. Maksudnya masyarakat di daerah itu masih menggunakan batu sebagai alat utama dalam menjalankan kehidupan. Kemudian dosen itu sedikit menarik bibirnya ke atas, cukup kentara dia sedang menyampaikan ekspresi sinis sambil berkata, “Ternyata di zaman semacam ini masih ada Zaman Batu di daerah Papua.”

Kemudian sepulang dari kuliah yang membosankan itu, saya berbincang sedikit hal terkait cerita sang dosen itu. Saya hanya bisa berkata pada teman-teman, “Ini kan aneh, Zaman Modern yang sedang meliput Zaman Batu kemudian menginformasikan lewat koran!” Akan tetapi teman-teman saya lebih senang menjawab kegelisahan saya dengan cara berdiam diri.



Mengapa ada ‘Periodesasi Sejarah’?
Di saat senggang, saya sering sekali melamunkan cerita sang dosen itu. Kemudian saya sedikit mengingat tentang perdebatan terkait permasalahan ‘periodesasi sejarah’ dengan teman-teman ngerumpi filsafat (Ngufil) dulu. Ya, beberapa teman pernah protes, “Ngapain sih bahas filsafat dengan peta periodesasi zaman.” Yang mereka maksudkan, mengapa kami ngobrol tentang filsafat yang dibatasi oleh zaman. Misalnya abad pertengahan ada tokoh siapa saja, pemikirannya bagaimana, dan sebagainya.

Saya masih ingat perdebatan tentang hal itu sampai panjang sekali, hanya karena saya pernah mengajak mereka berdiskusi tentang filsafat, yang tema diskusinya adalah filsafat abad pertengahan. Setelah itu kami mencoba belajar filsafat sambil meruntut pemikiran satu-persatu tokoh dimulai dari Thales.

Lantas bagaimana saya bisa lolos dari perdebatan panjang itu? Saya hanya berkata pada teman Ngupil saya, jika periodesasi sejarah itu mempunyai fungsi mempermudah memahami suatu konteks dengan batas yang sudah disediakan. Karena dalam setiap konteks mempunyai ciri khas berlainan dengan konteks yang lainnya oleh karena itu bisa diberi batas. Maka dari itu dengan periodesasi, kita bisa dengan mudah membayangkan karakter zaman. Ketika seorang teman menyebutkan zaman Pra-Socrates (Periodesasi yang dibuat Betrand Russel), maka kita akan membayangkan Athena yang penuh mitos tentang Dewa-dewa dan bagaimana cara manusia memahami alam raya.

Akan tetapi Taufik Abdullah juga pernah mengatakan fungsi kedua dari sebuah perodesasi sejarah. Bagi Taufik fungsi kedua tersebut ialah untuk menunjukkan kepada kita perihal bagaimana sebuah masa lalu itu harus dipahami. Tentu saja hal ini akan merujuk pada basis ideologis penentu periodesasi. Dalam suatu contoh misalnya Moh. Yamin pernah membagi sejarah Indonesia menjadi lima zaman yang berujung pada ‘Abad Proklamasi’. Bisa dilacak kemudian jika Moh. Yamin mencoba membangun rangkaian sejarah melalui perspektif atau sudut pandang yang mengagungkan sifat Nasionalisme. Mulai titik awal sampai akhir, yang berperan dalam sejarah adalah bangsa Indonesia yang pada akhirnya Happy Ending.



Beda wilayah, beda zaman
Kembali lagi pada pokok permasalahan yang saya temui lewat cerita sang dosen. Bagaimana suatu zaman bisa saling berbeda dengan wilayah yang lain.

Memang salah satu cara mudah untuk memahami masa lalu adalah dengan menyediakan beberapa patokan (periodesasi waktu). Dan menemukan terlebih dahulu hal apa yang menyebabkan bagian mana dari peristiwa atau periode waktu itu penting untuk menjadi sejarah. Mungkin karena betapa banjirnya peristiwa masa lalu. Maka dari itu harus disarikan, karena akan mustahil kalau semua dituliskan atau menjadi sejarah.

Selain itu, Taufik Abdullah juga pernah mengatakan bahwa sejarah tidak hanya mengenal pembatasan waktu. Akan tetapi juga terdapat pembatasan wilayah atau spasial. Maka dari itu jika terdapat suatu wilayah yang telah masuk sebagai ciri khas zaman modern, tidak menutup kemungkinan terdapat wilayah lain yang masih berada dalam zaman batu.

Tiba-tiba saya jadi memikirkan hal yang harusnya kita pikirkan bersama. Bukankah Proklamasi Kemerdekaan atau pernyataan jika Indonesia telah merdeka hanya dilaksanakan di Lapangan Ikada Jakrta? Lantas apakah hanya Jakarta saja yang merdeka?




Rabu, 01 Februari 2012

Sedang Menghamba Pada Imajinasi #1

Malam ini saya merasa agak aneh. Seharian baca buku memang tak ada bedanya dengan seharian berada dalam perjalanan. Menjadi lebih akut ketika perjalanan itu ditempuh dengan menaiki perahu sampan, bercadik lima, berlayar dua belas, dan sebagainya.
Setelah perahu merapat ke pinggiran pantai. Bisa dipastikan siapapun yang menjadi mantan penumpangnya akan merasa aneh. Efek yang ditimbulkan, tentu saja setelah itu kalian akan berjalan di atas tanah dengan sangat limbung. Seraya masih berada di atas derasnya ombak laut. Akan beruntung sekali sepertinya. ketika turun dari perahu. Tak ada sedikitpun makanan dalam perut yang tiba-tiba ingin eksis di dunia luar. Ataupun sekedar memberontak sembari  mengintip sedikit, sebenarnya seperti apa sih dunia di luar sana.

Saya rasa anda sendiri  pasti pernah merasa aneh. Ya, semacam keanehan ketika dengan sangat tiba-tiba anda menyadari jika diri anda sendiri ternyata aneh. Sebentar. Begini saja. Agar lebih mudah memahami maksud saya tadi. Cukup pikirkan saja, jika anda kebingungan dengan apa yang telah saya katakan tadi. Maka itulah fase terindah dalam hidup anda. Mungkin karena anda telah tergolong manusia yang meloncat dari batas kenormalan seseorang.

Maka dari itu, segeralah berpesta layaknya orang paling beruntung.  Atau setidaknya merayakan dengan diam-diam. Ataupun yang lebih tidak mengganggu orang lain. Coba rayakan semeriah mungkin, akan tetapi sebisa mungkin, anda sendiri jangan sampai tau jika anda sedang merayakan keberuntungan itu.

Sebenarnya saya sendiri merasa tidak enak badan hari ini. Sungguh terdapat penyakit aneh yang tiba-tiba datang menikam sisa hidup saya. Sebuah penyakit tanpa raga dan warna. Penyakit yang mungkin hanya bia dirasakan tanpa diketahui wujudnya. Ya, penyakit keanehan.

Memang tidak terlalu mengganggu kehidupan. Akan tetapi membuat saya lebih sering berpikir hal-hal yang aneh. Misalnya saja. Saya pernah berpikir bagaimana rasanya menjadi ikan asin. Ya, ikan asin. Ditangkap, dibekukan, dibelah, kemudian diasinkan. Bukankah ini proses pasca kelahiran yang menegangkan.

Pemikiran saya mensistematiskan konsep awal. Yaitu menjadi ikan asin. Setelah sistematis, maka terdapat rangkaian peristiwa atau runtutan momentum. Tentu saja mulai dari bagaimana saya menjadi ikan yang ditangkap.

okelah saya akan memulainya.
                                                                               ***


    Siang ini saya sedang berenang-renang mencari tempat yang agak sepi. Keriuhan di kota ini hanya terdapat di seputara titik nol atau tengah kota. Akan tetapi tak seperti biasanya. Kali ini kota terasa sepi. Suasananya seperti teranyam dari lembaran-lembaran ketakutan yang saling menindih satu sama lain.

“Ada apa dengan kota?” tanya seekor ikan tua dengan ukuran jenggot yang lebih panjang dari tingginya gedung BCA di kota ini.

“Biasa,” sambil ngupil dan dengan nanda yang sangat datar saya menjawabnya.

Ikan tua berdaster merah-kuning polkadot itu mendadak menunjukkan ekspresi agak sinisnya. “Woh, rek-arek enom jaman saiki mak koyok ngene kabeh. Beh, ora ono sopan-sopan’e nang wong tuwek. Penggaweane ku-mlaku nang ndi-endi gak jelas bluas,” ujarnya.

Sepertinya saya merasa, kalau saya memang harus terlihat agak kaget mendengar kalimat dari orang tua itu. Agar pertemuan kami sedikit terasa lebih dramatis. Dalam artian dapet soulnya.

Kemudian saya berkata, “Loh bapak reng Jember toh, waaah wes suwe ora nang kene.”

Wajah ikan tua itu tiba-tiba berubah. Dari merah menjadi agak merah sedikit. Sungguh peralihan yang begitu instan. Lalu bapak tua berkata, “Loh sampiyan kok taok lek aku wong Jember? Begh, jek tas’an ae aku ngenteni nang kene le.”

Sambil menggaruk-garuk kepala lantas saya meneruskan obrolan sesama dengan sesama ikan. “Yo ngerti lah pak. Bosone riko loh Pandalungan banget. Sampiyan nyapo toh nang kene, ayo ngopi ae!”



Bersambung ah, ngantuk soale… nanaa.. nanana.. subidu bidu.. pam..pam..

Minggu, 29 Januari 2012

Pulang

Apa yang kalian rindukan dari kepulangan. Atau mungkin yang seharusnya disebut sebagai kepergian. Pernahkan kita memikirkan, mengapa rindu rumah? Sebenarnya apa yang kita rindukan dari sebuah rumah. Kenyamanan yang membuat kita semakin merdeka sebagai spesies manja. Atau kasih sayang orang tua yang berlebihan itu. Entah kita sadar atau tidak, jika kita adalah mahasiswa. Ya, suatu elemen dalam masyarakat yang sekaligus terpisah dari masyarakat itu sendiri. Ah, tapi saya hanya ingin bercerita sedikit tentang perjalanan.

Saya memang tidak terlalu suka dengan perjalanan. Pernah suatu hari seorang teman dari Zine personal; Halimun, meminta tulisan saya tentang perjalanan liburan ketika lebaran. Ya, saya tetap menulis. Setelah tulisan itu dilayout, saya baru tahu jika menjadi satu-satunya sosok liyan yang membenci (baca: tidak terlalu suka) perjalanan. Bagaimana tidak, yang saya tulis hanya seputar, jam berapa bangun, baca buku apa, setelah itu hari berganti. Dan di hari berikutnya terjadi pengulangan cerita yang begitu lagi.

Jadi ingat kemarin, jumat subuh (27/2). Baru mendapati tempat duduk di gerbong lima, ketika selesai menaruh barang, langsung terasa kepala saya agak pusing. Kemudian pada teman yang kebetulan pulang bareng, saya memaki, “Jancuk, jek tas oleh longgoh wes ngelu ndasku.” Tidak jelas juga. Saya sedang memarahi diri sendiri lewat orang lain. Sudahlah.

Kemudian cara paling sederhana mengatasi rasa pusing yang agak alay itu, ya terpaksa saya harus ngajak ngobrol teman saya. Akhirnya berhasil, sedikit mengeksploitasi waktunya. Tapi memang karena mulai dari semalam kami berdua belum tidur. Jadi terpaksa di paragraf tertentu, obrolan harus saya hentikan. Tentu saja kehabisan bahan obrolan, tapi mending sebut saja kalau saya sedang memberikan ruang agar teman saya istirahat.

Maka, tibalah saat dimana saya merasa sepi. Memang, di saat tertentu, saya selalu berdebat dengan diri saya sendiri. Seperti ada dua atau tiga pikiran di dalam diri saya yang saling berlawan. Asik rasanya, tinggal tentukan saja apa topik yang harus dibahas.

Barangkali perjalanan ini akan lebih berarti kalau saya bisa tau, sebenarnya untuk apa saya melakukan perjalanan. Pulang atau pergi. Lalu, mengapa saya lakukan?

Indrian Koto dalam sajaknya mengatakan jika, kepergian adalah bentuk dari kepulangan yang lain. Apa yang sebenarnya ingin Koto sampaikan lewat kata-kata itu. Tentu saja saya tidak akan tahu. Tapi, mungkin ada yang lebih dari sebuah kepulangan. Barangkali Semacam ritual sederhana untuk sekedar menitipkan kelelahan karena kerinduan. Ya, sebuah kerinduan yang dihadirkan oleh jarak. Kemudian bertemu pada wadah yang tepat untuk menumpahkannya.

Kemudian Koto mencoba untuk meniadakan kepergian. Bahwa sesungguhnya pergi adalah pulang. Sedangkan pulang belum tentu pergi. Bahkan harusnya pulang tek pernah ada dalama kamus.

Sebagian besar kepulangan, selalu akan bertemu dengan orang-orang masa lalu yang siap menerima kita dengan hangat. Sedangkan kepergian ialah pertemuan dirimu dengan benda-benda baru yang sedikit asing.  Atau bahkan sesuatu yang tak pernah sanggup engkau ramalkan.

Sebentar.

Sebenarnya saya sedikit curiga dengan apa yang ingin Koto sampaikan. Jangan-jangan kepulangan yang sangat asing itu ialah ketika kita dijemput oleh kematian. Tentu saja jemputan dengan sangat tiba-tiba, senyap, mungkin penuh paksaan yang membuat kita hanya bisa menerima dengan pasrah. Ah, atau barangkali kecurigaan saya itu sendiri yang seharusnya bermakna sebagai kepulangan?

Sudahlah, lupakan. Saya hanya ingin sedikit bercerita sedikit tentang perjalanan yang sedikit.

Rabu, 18 Januari 2012

Combing Jogyakarta

"Bagi Dong"



"Menuju Pantai Selatan"



"Mengintip Kerajaan Modern Sultan"



"Ojek Payung"



"Bayar Nasi Kucing di Angkringan"



"Bidik Target"



"Mural Iklan Komersil"
istirat atau sibuk menanti?

valentino monkey
Habiskan Seja Sendiri


Rehat Menanggalkan Seragam